Sabtu, 10 Desember 2011

Telaga: Asisten Rumah Tangga

Ada satu hal yang sudah beberapa minggu lalu membuat aku hampir putus asa.  Betapa sulitnya mencari asisten rumah tangga atau boleh ya aku mengatakan pembantu… supaya lebih akrab saja ditelinga.    Biasanya dulu cukup mudah mencari tenaga pembantu yang bersedia menginap untuk menjaga anak-anak sekaligus membantu pekerjaan rumah tangga.  Tapi sekarang…. ampun susahnya !

Aku sudah titip beberapa pesan sponsor kepada teman-teman, untuk mencarikan pembantu dengan syarat umur di atas 16 tahun, tidak buta huruf, sayang anak-anak dan bisa memasak !  Tugas-tugasnya standar saja, yang penting mau mengasuh anak dan bisa masak untuk makan anak-anakku.  Karena aku sejak pagi hingga sore menjelang malam sudah pasti di kantor dan tidak sempat secara penuh memperhatikan anak-anak.

Sebelumnya, aku pernah punya tenaga bantu-bantu yang tidak menginap.  Jadi bibi ini adalah warga dari kampung dekat komplek rumahku.  Dia datang pagi sebelum aku berangkat kerja dan dia akan pamit pulang setelah aku tiba di rumah di sore hari.  Orangnya cukup telaten terhadap anak-anak dan gesit pula.  Namun, beberapa minggu yang lalu dia mengundurkan diri karena sudah mulai sering sakit-sakitan dan sudah tidak sanggup lagi bekerja.  Sejak saat itu lah aku harus pontang panting mengurus anak-anak dan pergi bekerja.  

Pagi hari sebelum ke kantor, aku mampir ke rumah ibu dan menitipkan anak-anak di sana.  Sore menjelang malam, aku jemput anak-anak dan kami pulang ke rumah bersama-sama.  Terus seperti itu setiap hari…. 
Bersih-bersih rumah, cuci baju, setrika, mengurus anak-anak, pergi ngantor… hhhmmm…. Nikmat cape nya.  Untuk makan, aku memilih membeli masakan siap saji atau kadang-kadang ibu membekali kami masakan buatan beliau.  Terima kasih, ibu !

Inginnya sih mengajak ibu tinggal dirumahku untuk menemani kami.  Tapi, rasanya kok tidak manusiawi dan tidak sopan ya!  Kesannya kok ibu seperti diberdayakan.  Padahal dulu, ibu sudah cukup lelah merawat dan membesarkan aku.  Oleh karena itu, aku tidak mau membebani ibu terlalu banyak.  Cukup malu rasanya setiap hari harus menitipkan anak-anak kepada beliau, sedangkan beliau juga sudah sepuh. 

Pertengahan bulan lalu akhirnya doaku dikabulkan.  Teman baikku membawa kabar menyejukan hati di suatu pagi.  Dia akan mengantar calon pembantu ke rumahku.  Hatiku berdebar … hampir mirip seperti dulu ketika mau bertemu pacar baru… hi hi hi..

Kalau dipikir-pikir setelah banyak membaca artikel di internet, majalah dan koran, di luar negeri itu tidak mudah ya memiliki pembantu rumah tangga.  Khususnya di Eropa, Amerika dan Australia. Tenaga pembantu sangat mahal.  Umumnya keluarga dari golongan ekonomi menengah, mereka tidak memiliki pembantu.  Semua dikerjakan oleh anggota keluarga sendiri, khususnya perempuan.  Ada yang memang murni ibu rumah tangga, ada juga yang memilih kerja paruh waktu, sehingga mereka masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.  Sementara aku? Yang tinggal di rumah secomot ini, masih merengek-rengek mencari orang yang bisa bantu-bantu di rumah.  Hmm….

Aku punya teman yang pernah tinggal beberapa tahun di luar negeri.  Dia bekerja di kantor, sedang sang istri sepenuhnya mengurus rumah dan anak-anak.  Semua dikerjakan sendiri oleh mereka.  Padahal sewaktu di sini, mereka mempunyai satu pembantu dan satu supir untuk antar jemput anak-anak sekolah.

Ada lagi, temanku yang dulu sewaktu di sini segala sesuatunya dikerjakan oleh pembantu, sehingga ia tinggal berangkat kerja saja dan clubbing hampir setiap akhir pekan.  Setelah pindah ke luar negeri dan menikah dengan suami yang memang penduduk sana, temanku ini akhirnya bekerja paruh waktu. Setiap berangkat ke tempat kerja, dia menitipkan anaknya di tempat penitipan anak dulu, dan menjemputnya di sore hari ketika akan pulang ke rumah. Cuci baju seringkali ke tempat laundry.  Membersihkan rumah secara keseluruhan dan belanja, dia lakukan di akhir pekan.  Jadi yang rutin dia lakukan setiap hari adalah menyiapkan makan malam, sarapan dan menemani anak sepulang dia kerja. 

Kalau mendengar cerita dari orang-orang dan dari artikel-artikel yang aku baca, memang ada faktor-faktor tertentu yang menjadikan hidup di luar negeri itu tidak melulu tergantung pada pembantu rumah tangga.  Di luar negeri, umumnya instalasi listrik, air, telpon, gas, dan pembuangan sampah rumah tangga, sudah tertata rapi oleh pemerintah dan didukung oleh disiplin masyarakatnya.  Sudah banyak tersedia supermarket yang isinya lengkap, bersih, ekonomis, dan terjangkau dari lingkungan tempat tinggal.  Tempat penitipan anak (day care/child care) yang nyaman dan aman.  Dan yang tidak kalah penting, kultur hidup mandiri yang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk tidak bergantung kepada tenaga pembantu.  Panjang ceritanya kalau harus dibandingkan dengan situasi dan kondisi yang ada di negeri tempat aku tinggal ini.

Kembali ke calon pembantu yang akhirnya datang dan resmi tinggal bersamaku sekarang.  Anak gadis berumur 16 tahun, datang dari salah satu kampung.  Anaknya rajin, ceria, dan bisa meringankan pekerjaan rumahku sehari-hari.  Aku bersyukur tidak terlalu banyak mengajari dia cara mengurus dapur dan mengasuh anak, karena sebelumnya dia memang telah terbiasa bekerja seperti sekarang ini.  Dengan kata lain, aku bisa bilang, everything’s under control.

Ada satu hal yang masih bikin aku resah.  Ketika aku di rumah, anak bungsuku masih mencari aku kalau ingin susu, mandi, buang air, dan makan.  Dia menolak dipegang pembantu dan akan lari mencari aku.  Padahal sehabis pulang kantor, aku inginnya istirahat dulu sekedar leyeh-leyeh depan televisi.  Tapi ternyata tidak bisa!  Si bungsu akan bolak balik menghampiri aku meminta ini dan itu.  Uuuh gemasnya! 

Sewaktu kuceritakan uneg-unegku ini pada seorang teman, dia berkomentar, “Bagus dong, dia mencari ibunya daripada bibi.  Kamu mau nanti anakmu tidak kenal lagi sama kamu dan lebih sayang sama bibi nya…?”

OK… baiklah, aku tidak mau bersaing untuk mendapatkan cinta anakku.  Sini sayang, sama bunda yah!


Telaga: Berteman Tanpa Risau

Tidak tahu awalnya dari mana ketika aku mendengar cerita beberapa teman-teman yang sekarang ini bertambah kesibukannya karena bergabung di lebih dari dua grup salah satu smartphone.  Yang aktif dan terbuka, dia bisa cerita sana-sini dan ketawa sana-sini.  Yang kurang aktif bicara (atau mengetik) dia hanya sekedar menimpali atau tertawa atau memberi lambang/icon tertentu. Yang pasif namun penasaran… hmm… dia paling hanya membaca tulisan teman-temannya tanpa berkomentar apa-apa, paling banter senyum-senyum sendiri atau geleng-geleng kepala.

Satu temanku bercerita tentang kegundahannya akan fenomena grup smartphone ini.  Dia mengaku ditawari  oleh salah satu temannya untuk bergabung dengan grup teman-teman satu angkatan di sekolah nya dulu.  Menyadari bahwa temanku ini belum siap untuk menjadi bagian dari grup yang dia yakini tidak semua anggotanya dia kenal baik, maka dia menolak halus tawaran untuk bergabung.  Nanti saja ya, begitu jawabannya kepada temannya tersebut.

Di waktu berikutnya, temanku ini bergabung dengan grup smartphone rekan sekantornya dan grup teman-teman satu kelas nya di SMA yang memang benar-benar dia kenal baik.  Di kedua grup ini rasanya dia nyaman dan bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Dan seperti ada komitmen tidak terucap diantara teman-teman lama nya ini bahwa tidak ada yang boleh marah jika ada bercanda atau mengejek satu sama lain.  Semua candaan dan ejekan semata-mata hanya penghapus kejenuhan dari rutinitas kerja atau dengan kata lain candaan itu hanya di tulisan saja, bukan serius dari dalam lubuk hati :).

Sekarang aku jadi keterusan memikirkan soal maraknya grup-grup  smartphone yang sedang menjadi trend di lingkunganku.  Jika kita diundang untuk gabung di salah satu grup, kita boleh kan menolak undangannya untuk tidak bergabung?  Seperti yang telah dilakukan oleh temanku tadi.  Karena aku pikir, sungkan juga jika kita memang belum siap bergabung dengan individu-individu yang tidak kita kenal baik.  Bagaimana jika nanti kita melontarkan humor atau candaan yang ternyata tidak diterima oleh anggota grup yang lain dan berlanjut ke konflik?  Hal itu bisa terjadi apabila kita memang tidak mengenal tabiat masing-masing anggota.  Atau, karena saking sungkannya semua anggota grup, sehingga ruang ngobrol/ruang chat jadi jarang ditulisi cerita-cerita, sepi, garing, seperti kota mati (haadeuuhh…).

Ketika kita sudah terlanjur berada di salah satu grup smartphone yang akhirnya kita sadari bahwa kita tidak berkenan berada didalamnya atau tidak nyaman menjadi anggotanya, boleh juga kan kalau kita mengundurkan diri atau dengan kata lain, leave the group? Terkadang kita juga kan suka melakukan kekhilafan.  Setelah kita bergabung, ternyata kok grup nya begini ya… kurang sreg dengan kita, lalu sering ada tulisan-tulisan dan komentar-komentar yang menusuk hati kita.  Yah, itu dia kejadiannya jika kita memang tidak saling mengenal dengan baik tabiat para anggotanya, karena sebelumnya kita memang tidak berteman dekat.  Dan kalaupun mau dipaksakan untuk berusaha mengenal lebih dekat dengan mereka lewat grup smartphone tersebut, rasanya terlalu menguras waktu dan pikiran juga dikarenakan kendala waktu kita yang telah tersita untuk bekerja atau beraktifitas yang lain.

Menurut aku pribadi, ini pendapatku ya, jika ingin menjalin tali silaturahim dan menambah pertemanan, bergabung dengan salah satu social network yang marak di dunia internet, itu sudah cukup.  Di situ, kita bisa berkenalan, bertegur sapa, saling lepas kangen, berbagi foto-foto jadul, saling beri komentar lucu dan saling memberi dukungan jika membaca status teman yang sedang galau.  Di salah satu social network yang mana aku ikut ambil bagian sebagai user/pemakai, aku pribadi bisa sesuka hatiku menulis status di dinding akun milikku, tapi dengan tetap memperhatikan unsur SARA ya.  Dan status yang aku tulis lebih dominan potongan lirik lagu-lagu cinta…. He he he…  Lalu komentar yang biasa ditulis oleh teman-temanku juga beraneka ragam, dan sampai saat ini aku masih bisa terima komentar mereka, walaupun itu ada ledekan atau sindiran halus, aku asyik-asyik aja.

Perihal grup smartphone yang kadang membuat risau… aku pribadi lebih memilih untuk hanya berkomitmen dengan teman-teman yang aku kenal dekat saja.  Untuk grup smartphone di lingkungan kerja aku, ada manfaat lain, yakni mengirit biaya telpon dan sms juga.  Karena dengan mengirim pesan di grup smartphone, aku bisa memberi kabar berita yang harus diketahui oleh orang-orang di lingkungan kerjaku, dengan gratis… hi hi hi…

Ujung-ujungnya… semua pilihan berpulang pada individu masing-masing.  Kita bebas memutuskan dan memilih apa yang diinginkan dan dirasakan nyaman bagi diri kita. 

Jadi…. Gimana?  Sudah siap untuk berbagi cerita suka duka dan tawa?  Peace on earth, my friends !!

Kamis, 24 November 2011

Telaga: Atraksi ditengah hujan

Minggu-minggu kemarin aku lalui dengan basah dan lelah.  Setiap hari hujaaaan… Kadang hanya hujan saja, tapi lain hari hujan ditambah angin kencang. Belum lagi kilatan petir dan halilintar menggelegar.  Setiap petir berkilat tajam, seolah-olah aku sedang difoto oleh langit … hehehe…

Aku baru benar-benar memperhatikan struktur bangunan kantor di kotaku ini yang terkenal dengan hujan dan petirnya, sepertinya harus mempertimbangkan unsur-unsur kelistrikan.  Penangkal petir itu sudah wajib hukumnya, baik untuk alat-alat listrik maupun untuk telepon dan mesin pabx.  Pemasangan grounding sampai zero level perlu dilakukan di beberapa titik lahan kosong di area kantorku.  Lalu saluran air di area kantor juga harus dipertimbangkan, mengingat volume hujan tinggi dan halaman kantor masih banyak pohon yang menggugurkan dedaunan dan dapat menyumbat saluran air atau selokan.

Kalau soal bawa payung sih dari jaman sekolah SD aku selalu nyimpan di tas walaupun di saat musim kemarau. Rajin nggak sih!?  Nah, setelah remaja dan beranjak dewasa, mulai males deh bawa-bawa payung apalagi kalau cuaca tidak menunjukkan akan turun hujan.  Biasanya  aku tanya ibuku apakah perlu bawa payung.  Kalau ibuku bilang bawa, yes, berarti aku taruh payung dalam tas.  Kadang dugaan ibu benar, dan kadang juga keliru.  Yaa nggak apa-apa juga, toh ibuku bukan bertugas meramal cuaca.  Yang penting aku tenang karena mengikuti omongan ibu. 

Di sepanjang jalan berangkat dan pulang kantor jika kondisi hujan, ada saja pemandangan yang mengharukan dan menggelikan… juga yang bikin emosi naik.  Hhmm… aku tuh dari dulu entah kenapa paling kagok kalau harus naik atau turun angkot sambil harus menutup atau membentangkan payung.   Yang ada itu ribet dan ribet.  Padahal kalau soal keseimbangan badan, aku sama sekali nggak punya masalah.  Hanya saja perihal payung ini yang bikin aku tegang jiwa raga.

Ketika aku berdiri di trotoar sambil berpayung ria, lalu angkot menepi.  Aku mau naik dong. Nah, apa dulu sih yang harus aku lakukan?  Apakah aku naik dulu, membelakangi penumpang, sambil menutup payung yang masih membentang di pintu angkot?  Atau … aku berdiri depan pintu angkot, menutup payung, baru kemudian naik masuk angkot?  Basah dong ya… duuhhh…!

Dan moment memalukan pun aku alami, kawan.  Ketika aku di dalam angkot, lalu hujan mulai turun perlahan namun pasti, dan akhirnya deras ia mengguyur tanah bumi.  Aku mulai  was-was karena aku tahu detik-detik pergulatannku dengan payung akan tiba.  Beberapa meter lagi, aku harus turun dan berganti angkot dengan tujuan ke rumah.  Saat aku minta berhenti, pak supir dengan damai memberhentikan angkotnya masih agak ditengah jalan.  Dia bilang, “itu pinggirannya dalam neng, takut ban kejeblos” …. Deeuuhh… bisa ya supir bilang begitu.  Tega dia membiarkan aku harus turun masih agak ditengah jalan. 

Aku taruh ransel di pundak, tempat bekal kutenteng di tangan kiri sambil siap-siap hendak turun angkot.  Payung hendak aku bentangkan saat aku menapak turun dari pintu angkot. Tapi apa daya… aku manusia penuh kekurangan.  Dan akrobat pun terjadi, angin membuat aku tidak bisa mengendalikan payung yang baru aku bentangkan. Tangan kiri yang menenteng tempat bekal makan siangku, melemah dan lepaslah semua tentenganku…. Tempat bekal ku (ada 3 ompreng) berantakan di jalan raya !

Duuh… sambil menahan malu karena banyak orang yang sedang berteduh dipinggir toko melihat atraksiku ini, aku harus memunguti barang-barangku yang berserakan di jalan.  Payung terlipat layu dan aku basah kuyup.  Untuk skala 0 sampai 10, harga diriku sudah di angka satu rasanya.   Serunya lagi, tidak ada yang membantuku saat itu.  Aku maklum juga, karena kondisi hujan deras, setiap orang melindungi dirinya masing-masing dari air hujan yang bisa bikin masuk angin dan sakit kepala.

Hmm… saat aku sudah duduk di angkot berikutnya, masih juga harus menunggu karena penumpang memang belum memenuhi kuota yang ditargetkan pak supir.  Ada beberapa anak kecil mengojek payung dengan badan menggigil kedinginan, bibir pucat dan tangan kecilnya memegang erat payung ukuran jumbo miliknya. Iya … nasibku masih lebih baik rasanya dibandingkan mereka.  Aku tidak harus mengojek payung waktu kecil.  Aku tidak harus mencari uang tambahan waktu masih sekolah berseragam putih merah.

Rasa nelangsa pada diri sendiri yang tadi telah berakrobat di jalan, pupus sudah.  Ada yang lebih menyayat hati, melihat perjuangan ojeker payung cilik yang menggigil ditengah hujan deras dan angin kencang.  Mudah-mudahan mereka mendapat rejeki cukup dan pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Tidak ada usaha baik yang sia-sia.  Itu sudah janji Tuhan.


Kulihat payungku terlipat lusuh, ada patah di dua tangkainya.  Tidak apa-apa lah, ini sih soal kecil …hmm..




Jumat, 30 September 2011

Telaga: Kilas balik ke Catatan 21 Juni 2010

Minggu yang lalu saya jalani seolah kaki ini tidak menjejak tanah.  Ada rapat tiga hari berturut-turut yang memakan hampir seluruhnya dari delapan jam waktu kerja yang saya punya. Ada tugas juga yang harus saya selesaikan tepat pada waktunya.  Lalu bergegas pulang agar dapat sesegera mungkin bertemu anak-anak.  Si sulung sedang menempuh ulangan umum di sekolahnya dan saya merasa wajib untuk lebih intens menemani dia belajar. 

Teman-teman saya hampir setiap hari menyempatkan untuk mengobrol atau sekedar menyapa saya lewat Yahoo Messenger.  Saya sama sekali tidak keberatan sepanjang mereka mengerti bahwa saya menjawab obrolan mereka disela-sela pekerjaan rutin. Dan ketika saya tiba di rumah, kami saling berkirim pesan lewat SMS.  Teknologi informasi sekarang sepertinya mendekatkan kita lagi dengan kerabat dan kawan yang jarang kita temui.

Membahas video porno seolah tidak ada habisnya. Obrolan di kantor, tayangan di televisi, dan posting di internet.  Luar biasa, kalau video itu dikenakan royalty sepertinya akan menuai Rupiah cukup banyak. Sayang sekali yang beraksi dalam video tersebut lupa atau khilaf bahwa itu tidak sesuai dengan kehidupan berkebangsaan di tanah Indonesia.  Ditambah lagi si penyebar video tersebut betul-betul tidak menghiraukan dampak atas disebarkannya film porno itu yang tabu keluar dari kelambu kamar masing-masing.

Anak laki-laki yang paling besar berumur sepuluh tahun.  Saya perhatikan dia tidak memberi komentar apa-apa tentang berita video porno itu padahal dia termasuk gemar nonton teve.  Atau mungkin dia tidak menonton program-program yang menayangkan berita itu?  Yang saya lihat, dia lebih antusias menonton film kartun dan animasi Jepang, juga iklan-iklan Piala Dunia 2010.  Syukurlah Piala Dunia telah tiba, jadi setidaknya perhatian anak saya tidak terganggu dengan berita video porno.

Walhasil pembicaraan di mana-mana mulai beralih ke Piala Dunia dan khusus di Indonesia ada berita seru juga tentang pundi-pundi uang Gayus yang mencapai lebih dari 100 milyar Rupiah!  Segelintir teman dekat ada yang menyinggung soal salah satu partai politik yang demen banget ikut-ikutan ngurusin RAPBN.  Yang usul minta dana aspirasi lah, lalu ketika usul itu ditolak, dimajukan lagi usul dana pembangunan desa yang nilainya luarbiasa besar dan sudah pasti akan membuat defisit APBN.  Tapi mungkin partai politik itu bilang, “itu kan nothing”… hampir mirip dengan komentar petinggi DPR sewaktu ditanya mengenai pembangunan gedung DPR yang baru yang mencapai trilyunan Rupiah.

Katanya lagi, dana pembangunan desa itu adalah dana bagi desa-desa yang telah menyumbangkan suaranya bagi partai masing-masing.  Aduh, saya jadi tidak mengerti.  Apakah partai telah bikin janji-janji kepada desa-desa tertentu dengan syarat harus menyumbangkan suara bagi partai tersebut?  Saya sempat berpikir bagaimana jika uang simpanan Pak G kita pakai untuk nambahin dana RAPBN, nilai simpanannya kan fantastis.

Terus terang untuk orang awam seperti saya, memikirkan politik tidak sanggup, memikirkan soal pajak juga tidak mampu. Oh ya, bulan Maret lalu saya pontang-panting cari uang untuk bayar pajak tahunan saya.  Kata teman, seharusnya saya membayarnya mencicil setiap bulan sehingga tidak terasa besar nanti di akhir tahun pajak, tetapi setiap bulan pun saya sulit membagi-bagi uang gaji saya untuk bayar pajak. Baru saja waktu itu saya setor ke salah satu bank, ketika makan siang di kantin kantor saya mendengar berita tentang pegawai pajak yang berlimpah uang gelap. Sakit rasanya hati ini.

Di akhir pekan kemarin saya menutup hari Jumat dengan berkumpul bersama rekan kerja dalam rangka perpisahan salah satu rekan yang akan kembali ke negaranya.  Di hari Sabtu saya berbincang-bincang dengan teman wanita saya yang sedang mengalami kegundahan yang sangat berat.  Betapa dia tertekan karena menjalani rumah tangga selama bertahun-tahun tanpa diperlakukan dengan baik dan hormat oleh pasangannya.  Saya tidak kuasa untuk menahan air mata saat berpelukan dengan tubuh kurusnya.  Betapa beranekanya problematika hidup manusia, setiap harinya, setiap minggunya.

Cerita: Bik Umi

Udara siang ini cukup panas kurasakan. Padahal aku berlindung dirumah yang beratap cukup tinggi, namun hal itu tidak banyak membantuku menahan keringat yang mengalir disela-sela kaos yang kupakai.

Masih malas rasanya untuk memulai tugas kampus yang baru kuterima tadi pagi.  Ketika aku pulang kuliah, yang kudapati hanya Bik Umi yang sedang mengangkat baju-baju dari tiang jemuran.  Dan sekarang dia sudah mulai menggosok baju kami dan baju anak-anak kost satu per satu. Hmm… aku bisa merasakan Bik Umi banjir peluh selama menggosok baju dan dia tidak sanggup mengeluh, seperti yang aku lakukan.

Keluar dari kamarku yang terasa pengap, aku kembali turun ke lantai bawah.  Dari atas tangga aku menghentikan langkahku dan duduk disalahsatu anak tangga.  Kuperhatikan punggung Bik Umi yang sedikit membungkuk.  Dia sudah mulai sakit-sakitan akhir-akhir ini. Ibu sebetulnya sudah tidak tega untuk memanggil Bik Umi mencuci dan menggosok baju di rumah kami, tetapi Bik Umi tetap meminta tolong ibu untuk memberi dia pekerjaan.  Uang harian yang ia dapat setidaknya bisa membantu anaknya untuk makan sehari-hari.

Bik Umi adalah tetangga kami juga.  Dia tinggal bersama anak perempuannya, menantu dan empat orang cucunya.  Yang aku tahu, hanya menantu dan bik Umi lah yang bekerja menafkahi keluarga itu.  Cucu perempuan yang sudah cukup besar hanya berdiam dirumah dan cucu laki-laki yang paling tua seringkali berhenti dari kerjanya di pabrik-pabrik.

Dikala senggang aku suka mengajak Bik Umi bercakap-cakap.  Orangtua itu sangat lugu dan nampak penuh tanggung jawab.  Suatu ketika aku mengetahui bahwa Bik Umi sangat takut dengan suara halilintar.  Dia bisa menggigil sambil bersimpuh dilantai apabila mendengar suara gemuruh itu, walaupun ia mendengarnya dari dalam rumah.  Dia bilang badannya mendadak lemas dan jantung berdebar keras jika mendengar halilintar.  Lalu dia akan serta merta minta ijin pulang walaupun pekerjaan belum selesai.  “Nanti bibi lanjutkan besok pagi saja”, begitu katanya.

Tatkala aku mendapatkan Bik Umi tidak datang di suatu hari, karena sakit, aku pernah berkata pada ibu untuk meminta Bik Umi diistirahatkan saja.  Aku tidak tega melihat perempuan diusia lima puluh tahun lebih itu masih memaksakan fisiknya bekerja walaupun hanya setengah hari.  Tetapi ibu tidak bisa memberhentikan Bik Umi begitu saja.  Masih ada rasa tidak enak hati bagi Ibu jika harus mengganti Bik Umi dengan orang lain.

“Kenapa bukan anak perempuannya saja Bu yang menggantikan Bik Umi?” begitu usulku pada Ibu.  “Kalau tidak salah teh Tuti kan tidak ada kegiatan apa-apa dirumahnya?” lanjutku.

Aku yakin fisik anak Bik Umi tentulah lebih kuat dibandingkan kondisi ibunya.  Dan kami pun tidak perlu memperkerjakan orang lain karena pengganti Bik Umi masih dari keluarganya sendiri.  Lagi-lagi ibu hanya memberi ekspresi wajah sangsi atas usulku ini. “Sepertinya Tuti belum mau bekerja dengan kita karena masih ada anaknya yang paling kecil”. 

“Loh, kan ada cucu perempuan bibi yang paling besar.  Dia seharusnya bisa menjaga adiknya yang kecil sementara teh Tuti bekerja.  Iya kan?”.  Aku berusaha meyakinkan ibu untuk menyampaikan hal ini kepada Bik Umi.  Keluarga bik Umi tidak akan kehilangan penghasilan jika anaknya Bik Umi mau bekerja menggantikan ibunya.

Tidak… sepertinya tidak ada yang tahu di lingkungan kami tinggal mengenai sosok Bik Umi yang di usia senja nya masih ikhlas bekerja keras demi menghidupi keluarganya.

Akhirnya ibu mengatakan akan mencoba lagi mengutarakan niat kami untuk ‘mengganti formasi’ tukang cuci dirumah.  Kelihatannya simpel, namun hal ini berkaitan dengan nafkah dan harga diri seorang Bik Umi.

Telaga: As-Syifa Alif

Dear teman,

Anak ke dua saya adalah perempuan, bernama As-Syifa Alif yang lahir tahun 2005.  Menurut diagnosa Dokter, Syifa lahir dengan status gawat janin dan microcephalus.  Dari microcephalus ini anak saya mengalami spasticity atau kekakuan pada sendi dan otot tubuhnya.  Dokter Anak dan Dokter Rehabilitasi Medik juga mengatakan bahwa Microcephalus-nya akan memperlambat perkembangan otak Syifa.  Saya mengerti bahwa Syifa kemungkinan akan tumbuh sedikit terlambat dibandingkan dengan anak-anak seusia dia.

Sejak usia 3 bulan Syifa mengikuti terapi di klinik tumbuh kembang di Rumah Sakit di Bogor.  Terapi ini untuk menstimulus syaraf dan otot nya agar dapat melakukan gerakan sesuai dengan yang seharusnya.   Kalau saya hitung-hitung, kurang lebih dua setengah tahun pertama dikehidupan Syifa, diisi dengan jadwal terapi. 

Syifa memang terlahir dengan kondisi fisik yang mudah sakit.  Tahun 2008, Syifa mulai terkena Asthma Bronkial, lalu diikuti dengan sakit Tuberculosis (TB) yang akhirnya Syifa mengikuti program pengobatan selama 9 bulan dan program ini telah tuntas kami jalani.

Pada saat usia Syifa sekitar 2.5 tahun, kami berhenti dari program terapi di klinik tumbuh kembang.  Setiap waktu kami usahakan untuk melatih Syifa di rumah agar tidak jauh tertinggal dari anak sebaya dia. 

Terlepas dari mudahnya Syifa jatuh sakit dan badannya yang sangat kurus, saya lihat anak ini energik, ceria dan ramah bahkan pada orang asing sekalipun. Keluarga besar kami selalu terhibur dengan kehadiran Syifa.  Dia dapat dengan mudah ngobrol dan bernyanyi didepan orang-orang yang baru dia kenal. 

Syifa cukup sering meminjam handphone saya.  Tanpa pernah saya ajari, ternyata dia bisa memotret, shooting video dan merekam suara di handphone.  Karena belum bisa baca tulis tentunya hasil potret, video clip dan rekaman tersebut dia save dengan nama yang tidak beraturan.  Kesenangannya untuk otak-atik barang juga terlihat jika dia menjungkir-balikan mobil-mobilan dan dia periksa periksa ban atau “body” mobil nya, atau dia juga seringkali memeriksa sepedanya seakan-akan ada sesuatu yang dia perbaiki.  Lain halnya jika sifat ‘kewanitaannya’ timbul, dia bisa asyik bermain boneka dan menggendongnya kesana kemari.
Bulan Juni 2009 Syifa menginjak 4 (empat) tahun dan dia masuk sekolah Taman Kanak-Kanak kelas A atau TK kecil.  Setiap saya pulang kantor, saya seringkali mendengar Syifa membaca doa-doa dan menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di sekolah. 

Tahun 2011 ini, Syifa menginjak 6 tahun dan saya mendaftarkan dia di sebuah sekolah dasar negeri.  Namun, entah mengapa, Syifa hanya mau sekolah satu minggu saja. Setelah itu dia tidak pernah mau masuk sekolah lagi.  Saya sudah mencoba bertanya pada Syifa baik-baik mengapa dia tidak mau lagi masuk sekolah, tetapi jawabannya tidak jelas. Bujukan dan ajakan untuk berangkat sekolah tidak dia gubris, sampai akhirnya saya menyerah.

Setiap hari setelah mogok sekolah, Syifa bermain di rumah, rutin buka laptop dan bermain games. Saya berusaha meluangkan waktu walau hanya setengah jam sehari untuk mengajak dia belajar membaca, menulis dan mengenal angka.  Kemajuannya lambat (dibandingkan kemampuan dia membuka internet) namun saya masih berpikir… ok, tidak apa-apa, perlahan-lahan Syifa akan mengenal rutinitas belajar di rumah.

Akhirnya dalam waktu dekat ini, saya mendaftarkan Syifa untuk mengikuti les privat seminggu dua kali pertemuan, untuk melancarkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.  Dan saya akan juga mencoba mengunjungi psikolog anak untuk berkonsultasi mengenai kondisi Syifa.

Kami masih tetap mengajak Syifa untuk menggambar dan mewarnai atau menyusun gambar, dengan maksud kami ingin menstimulasi motorik halusnya juga agar seimbang dengan motorik kasarnya.  Saya perhatikan dia menyukai aktifitas menggambar dan bermain laptop.  Dan dia memang senang menggambar walaupun hasilnya masih jauh dari sermpurna.  Beberapa hari lalu dia menggambar 2 wajah yang sedang tersenyum, lalu sambil menunjuk gambarnya, Syifa berkata: “ ini bunda dan ini aku”.  Wah!

Cerita: Untuk Jico

Jico sayang, apa kabar?


Aku datang kembali ke kampung kelahiran ini yang sudah lama kutinggalkan.  Baru saja kulewati rumahmu yang asri.  Tidak ada yang berubah di sana.  Pohon jambu yang sedang berbunga itu pasti membuatmu sibuk setiap pagi.  Aku tidak mampir pagi ini Jic, nantilah setelah aku bertemu paman bibi dulu agar mereka tidak mengkhawatirkan aku jika tak kunjung datang juga. Kau tahu sendiri kan, kita seringkali lupa waktu bertemu dan berbincang-bincang, apalagi kali ini aku datang dengan rindu memenuhi hati.

Jico, aku kangen dengan wajah polosmu yang seringkali mengecohku.  Aku masih ingat, dulu kamu kuanggap sebagai orang paling iseng sedunia, dan senang melihat aku kesal karena keisengan yang kamu buat.  Tetapi di lain waktu, kau setia menunggui aku yang menangis di pinggir sungai, takut dimarahi Ibu, karena sandal kulit kesayangan beliau yang kupakai ternyata hanyut terbawa arus.

Sahabatku, sekarang aku sudah menginjak usia 23 tahun, dan belum lama ini resmi menjadi sarjana.  Kau sendiri bagaimana?  Bertambah dewasa tentunya, dan kulit semakin cokelat karena keseringan mendaki gunung.   Oh ya, aku ingat peristiwa mengharu biru di kaki Gunung Salak dimana saat itu kakiku terkilir juga terluka karena jatuh pada saat menuruni lereng gunung.  Tanpa pikir panjang, kau menggendongku dan mulai berjalan perlahan-lahan menuruni jalan setapak sampai menemukan tempat istirahat sementara untuk mengobati kakiku.  Setelah itu kamu berusaha menghubungi teman-teman lain agar aku segera mendapatkan pertolongan.  Raut wajahmu menunjukkan kepanikan.  Aku tidak bisa melupakan momen itu Jic.

Jico, dalam suratmu kau pernah menulis ingin punya gadis yang mau mengerti dirimu.  Bagaimana, apakah sudah kau dapatkan gadis impianmu itu?   Sepertinya tidak mudah mencari seseorang yang mau menerima dan menyayangi kita apa adanya di masa kini, dimana orang mulai sulit mendefinisikan apa itu kasih dan sayang.   Apakah perasaan yang luhur itu senilai dengan banyaknya simpanan kita di Bank?    Apakah perlu ada penelusuran bibit, bebet, bobot sebelum kita menyatakan cinta pada seseorang?  Entahlah, sampai saat ini aku tidak pernah bisa mendapatkan jawaban tentang hal itu.

Dan, yah …Akhirnya langkahku ini berhenti di depan pagar rumah yang dulu kutempati.  Tangis  haru  kudapatkan  dari  bibi  dan paman yang  menyambutku sambil berlari kecil.   Keadaan kamar tidurku tidak berubah, sama seperti terakhir kali kutinggalkan.  Tempat tidur dengan seprai biru tanpa motif, lemari baju dan meja kecil dengan taplak meja putih ditambah vas kembang biru yang dibiarkan tak terisi. Kualihkan perhatian ke kebun bunga yang sepetak kecil itu yang masih terawat dengan baik.  Kata Bibi kau masih rajin datang kemari untuk merawat kebunku ini, Jic.  Aku senang mendengarnya, ternyata perhatianmu tidak putus walaupun aku telah lama pergi meninggalkan kampung kita. 

Jico yang baik, sore nanti aku akan datang mengunjungi keluargamu. Untuk melepas rindu dengan orang-orang yang dulu senantiasa memberiku perhatian selain keluargaku sendiri. Juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang harus kamu jawab sejujurnya.  Mengapa selama dua tahun terakhir kamu tidak pernah menulis surat lagi atau setidaknya membalas surat-suratku?   Sikapmu itu membuatku bertanya-tanya akan keadaan kamu selama ini.  Dan aku rasa itu bukan kebiasaanmu berlaku misterius seperti ini yang membuatku penasaran dan juga cemas memikirkanmu.

Aku sering berpikir apakah kau selalu dalam keadaan sehat, sedang berbahagia, atau kah sakit karena patah hati?   Demi Tuhan, jangan biarkan hatimu terluka Jic.  Semua orang di kampung ini tahu bahwa kamu orang baik dan kamu begitu tulus dalam berteman.  Kamu selalu berada diantara orang-orang yang membutuhkanmu. Siapakah orang yang telah membuatmu merana? … Ah sepertinya aku melantur terlalu jauh.

Jico sayang, aku mau rebahan dulu sebentar. Tunggulah kedatanganku sore ini. Buah tangan untukmu sudah kusiapkan dalam tas terpisah.  Aku memilih kebun belakang milikmu sebagai tempat bertukar cerita nanti.  Kalau kau masih ingat, di tempat itulah, lima tahun yang lalu, kau memberiku ciuman di kening, tanda perpisahan.



Puisi: Pasangan Hati

Terkasih,
Ada berapa jumlah cinta yang kau punya?
Satu..dua..atau lima..sepuluh?
Tapi kau jawab bahwa kau hanya punya satu cinta,
dan itu untuk aku seorang

Lalu….bagaimana dengan dia yang sekarang menjadi pendampingmu?
Apakah kau mencintainya? … Menyayanginya?
Kau menjawab bahwa benar kau memang menyayanginya,
Tetapi tidak meluap seperti sayangmu padaku

Terkasih,
Batas antara perhatian dan sayang itu sangat tipis sekali
Bahkan seringkali sulit membedakan bagi keduanya
Banyak yang menjadi salah paham dan kecewa
Lantas….bagaimana dengan kita?

DI DALAM RENUNGAN KU, BERKATALAH SUARA HATI:
Kalau kau mencintai dia, cintai dia dengan ketulusanmu
Bila kau menyayanginya, sayangilah dengan keikhlasanmu
Berikan rasa tenangmu untuk menatapnya
Berikan rasa nyamanmu untuk memeluknya

Raihlah tangannya, biarkan rasa hangat mengalir
Tarik perlahan suatu sudut di keningnya dengan telunjukmu
Panjatkanlah doa untuk kebahagiaannya

Apabila semua itu telah kau lakukan
Kau akan merasakan kesejukan menyelusupi ruang hatimu
Langkah akan terasa lebih ringan dan berirama
Tiada lagi keharusan untuk bersatu secara jasmaniah

Apabila kau dapat melihat dirimu disaat memandang dirinya
Saat itulah kau tersenyum dan mengerti
bahwa kau telah bertemu pasangan jiwa.

Telaga: Buntu

Dear teman,


Buntu. Bukan soal usus buntu yang aku pikirkan dan sampaikan. Aku bukan orang medis yang memahami soal penyakit usus buntu atau penyakit lainnya. Aku memikirkan buntu yang lain.

Selama ini kriminalitas seperti pencurian dan perampokan yang diberitakan di media massa kurang lebih karena alasan kebutuhan mendasar yang tidak bisa dipenuhi. Sulitnya mencari kerja untuk mendapatkan uang. Sulitnya mendapatkan uang untuk mencari makan. Sulitnya mencari makan untuk diri sendiri dan keluarga. Karena kesulitan yang membelengu, dan berlanjut dari hari ke hari, tibalah sampai satu titik ketika otak tidak lagi bisa berpikir jernih. Rasa takut lapar dan keluarga tidak bisa hidup dengan layak, membuat kita kalut. Dan untuk beberapa orang tidak membutuhkan waktu lama dari rasa kalut untuk kemudian pikiran menjadi buntu.

Ketika jalan lurus untuk mencari uang begitu sulit, maka yang kita tempuh adalah jalan pintas yang biasanya lebih dekat ke arah yang salah.  Mencuri dan merampok seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang buntu. Yang aku pikirkan, mencuri dan merampok juga perlu siasat atau strategi loh agar calon target tidak mengetahui aksi ini atau jikapun si korban telah tahu akan aksi ini namun dia dibuat sedemikan rupa agar tidak berkutik.  Bukankah itu perlu pemikiran matang pula? Jadi, sebetulnya tidak buntu-buntu amat dong ya pikiran mereka itu.

Bagi kaum perempuan yang juga telah menemui titik buntu, jalan pintas yang diambil lebih merugikan lagi. Menjual diri sepertinya cara mudah untuk mencari uang. Modalnya hanya tubuh dan keberanian untuk menawarkan diri. Tarif bisa ditentukan kemudian dengan pertimbangan apakah tubuh masih sintal dan keterampilan yang dimiliki sudah memadai. Penjualan diri bisa dilakukan sendiri atau dengan perantara. Semua itu dapat diatur sesuai keinginan si perempuan yang buntu.

Aku berpikiran beda bagi perempuan yang tertipu orang calo dan secara dipaksa oleh si calo atau majikan yang notabene mucikari, untukmenjual diri. Bisa jadi si perempuan itu tadinya berharap bahwa dia akan disalurkan kerja sebagai pembantu atau penjaga toko, sesuai iklan si calo sebelumnya. Namun karena kepolosan berpikir dan kurang waspada, sehingga penipuan pun menimpanya.

Suatu ketika aku dapat membedakan, di jaman yang serba sulit ini, apakah kita ingin mencari kerja atau ingin mencari uang.  Mencari kerja konotasinya lebih ke bekerja di kantor, di pabrik, di supermarket. Mencari kerja seperti ini, sudah tentu membutuhkan modal pendidikan, modal uang, relasi, keterampilan, dan keberuntungan.  Aku pikir-pikir… bagaimana kalo aku rubah cara pandang aku ini, bahwa sesungguhnya kita jangan melulu fokus dengan kegiatan mencari kerja. Aku akan coba dengan menggiatkan diri untuk mencari uang. 

Mencari uang menurutku mempunyai pemahaman dan area yang lebih luas lagi. Mencari uang tidak harus di kantor, di pabrik, atau di mall yang mewah.  Mencari uang membutuhkan modal yang beragam, mulai dari modal yang kecil sampai dengan modal yang besar.  Lebih beruntung lagi bagi mereka yang mempunyai keterampilan khusus seperti pintar memasak, pintar menjahit, atau pintar menggambar. Itu juga merupakan modal yang tidak kalah penting. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya keterampilan khusus? Seperti aku misalnya, tidak pintar memasak, tidak pula menjahit.  Mungkin kita bisa telaah lagi atau kita gali lagi didalam diri kita yang hampir buntu ini sebetulnya masih tersisa apa sih?  Mungkin kita punya bakat berjualan, mungkin kita punya sedikit bakat menjadi penyalur barang-barang, atau mungkin sebetulnya kita punya kemampuan lain yang tidak kita sadari.

Aku sendiri ingin sekali mempunyai pemasukan sampingan selain pemasukan inti yang aku dapat setiap bulan.  Ada juga keinginan untuk berhenti bekerja di tempat aku sekarang bekerja, dan memulai usaha sendiri di rumah. Ada juga keinginan untuk mempunyai kios di rumah dan juga ada usaha lain yang bisa aku jalani bersama keluarga.  Semua ini aku rasakan dan aku pikirkan berkali-kali karena kebutuhan hidup aku yang terus meningkat. Kebutuhan untuk anak-anak yang bertambah seiring usia mereka. Juga keinginan untuk mempunyai tabungan yang cukup bagi masa depan aku dan anak-anak.

Setiap orang memiliki jalan pikiran masing-masing. Pemicu bagi setiap orang untuk melakukan sesuatu, itu tidak bisa disamaratakan. Pemicu aku berpikir untuk punya kios, mungkin akan berbeda dengan teman-teman lain. Aku yakin orang-orang diluar rumahku masih mempunyai ide-ide yang belum sempat direalisasikan, masih ada secercah kesempatan bagi kita yang punya keinginan.

Dan seperti yang kita ketahui bersama bahwa, keputusan yang kita ambil, langkah yang kita ambil, semua ada konsekuensinya. Entah itu positif atau negatif.  Jika kita telah mengambil suatu keputusan untuk menjalani suatu hal, maka jalanilah dengan tekun.  Namun, kita tidak perlu malu untuk mengakui kita salah, apabila jalan yang kita lalui itu memang salah. Bersegeralah untuk memperbaiki kesalahan kita, dan kita coba lagi langkah berikutnya yang lebih baik.

Di dunia ini kita menjalani hidup untuk sementara. Mengisi hidup ini dengan sebaik-baiknya kemampuan kita. Merawat anak-anak kita dan membimbing mereka hingga dewasa.  Jika kita saat ini mengalami buntu, maka yang kita pikirkan adalah bukan jalan pintas yang menuju arah yang salah. Kita coba pikirkan jalan alternatif yang bisa menjadi pilihan yang lebih aman dan lebih baik bagi kita dan keluarga. Dan tidak merugikan orang lain.

Buntu, tidak selalu merupakan titik akhir. Barangkali buntu, adalah titik jeda untuk kita, agar bisa berhenti sejenak dari lari mengejar duniawi. Agar kita bisa berhenti sejenak untuk memikirkan hal lain selain perut harus kenyang, susu harus dibeli dan SPP harus dibayar. 


Buntu, mungkin salah satu cara Tuhan menarik baju kita agar kita tidak selalu tergesa-gesa...  untuk mengingatkan bahwa  masih ada Dia yang mengatur rejeki kita, sebesar apapun rejeki itu, dan sekecil apapun rejeki yang kita terima.

Puisi: PERKAWINAN JIWA (kutipan)

sebuah kutipan dari... The Secret Rose Garden



Menuruni bumi,
keindahan aneh yang memabukkan dari
dunia batiniah bersembunyi dalam
unsur-unsur Alam

Dan jiwa manusia, yang telah
mencapai keseimbangan yang benar,
berhasil menyingkap keriangan
yang tersembunyi,
jalan yang lurus itu terpikat dan terpesona

Dan dari perkawinan mistik ini terlahirlah
lagu-lagu pujangga, pengetahuan batin,
bahasa kalbu, kehidupan yang bijak,
dan Keindahan kanak-kanak yang elok

Dan Jiwa Agung menganugerahkan kepada
manusia sebagai maharnya keagungan dunia
yang tersembunyi

Puisi: Kepastian yang terbentuk

Selama ini mencari bentuk sayang
Seperti apakah yang kita miliki
Karena ku tak yakin akan adanya kebersamaan
Jika itu hanya sebentuk kawan murni

Bersikap seolah tiada getar dan rasa
Apabila bertemu dan bercerita
Dengan dalih kita tidak terikat janji
Mengingat kini kita milik orang lain

Apa sebenarnya yang telah memisahkan kita?
Mengikis jiwa menjadi rapuh
Menutup nalar dan mata batin
Bahwa kenyataan kita memang tumbuh bersama
Berangkat dewasa dengan satu rasa dihati

Perlu rasanya kuluruskan kemelut ini
Sebelum masing-masing terlanjur menjauh
Fahamilah pada akhirnya kita harus terbuka
Bahwa mereka harus melepaskan kita

Dan jika perasaan yang dahulu masih ada
Seperti apakah kasih sayang kita terbentuk?
Walau tak kasat mata, hanya bisa kita rasa
Kepastian itu telah terbentuk disaat kita kembali bertemu

Puisi: Daun Terhanyut

                        Hidup ini bagiku ibarat sehelai daun
                        Terjatuh di air sungai
                        Terbawa alirannya sampai kapan
                        Tersangkut di bebatuan licin berlumut
                        Atau terhalang ranting melintang
                        Kemudian terhanyutkan lagi
                        Sampai ke jeram berikutnya

                        Bilakah sehelai daun itu tiba
                        di penghujung air mengalir…?

Puisi: Tanya dalam kebimbangan

Apa yang aku inginkan sekarang?
Apa yang akan kupinta nanti?
Apa yang telah kulakukan selama ini?

Menarik seutas tali yang terjulur
Kemudian merentangkannya
diantara dua jurang

Lalu terlintas dalam pikiranku,
Bagaimana cara menyimpulkan
tali di ujung sana?

Hhmm….
Berani ataukah Bodoh
Jika kupaksakan diri
Untuk menuruni jurang ini ……?