Udara siang ini cukup panas kurasakan. Padahal aku berlindung dirumah yang beratap cukup tinggi, namun hal itu tidak banyak membantuku menahan keringat yang mengalir disela-sela kaos yang kupakai.
Masih malas rasanya untuk memulai tugas kampus yang baru kuterima tadi pagi. Ketika aku pulang kuliah, yang kudapati hanya Bik Umi yang sedang mengangkat baju-baju dari tiang jemuran. Dan sekarang dia sudah mulai menggosok baju kami dan baju anak-anak kost satu per satu. Hmm… aku bisa merasakan Bik Umi banjir peluh selama menggosok baju dan dia tidak sanggup mengeluh, seperti yang aku lakukan.
Keluar dari kamarku yang terasa pengap, aku kembali turun ke lantai bawah. Dari atas tangga aku menghentikan langkahku dan duduk disalahsatu anak tangga. Kuperhatikan punggung Bik Umi yang sedikit membungkuk. Dia sudah mulai sakit-sakitan akhir-akhir ini. Ibu sebetulnya sudah tidak tega untuk memanggil Bik Umi mencuci dan menggosok baju di rumah kami, tetapi Bik Umi tetap meminta tolong ibu untuk memberi dia pekerjaan. Uang harian yang ia dapat setidaknya bisa membantu anaknya untuk makan sehari-hari.
Bik Umi adalah tetangga kami juga. Dia tinggal bersama anak perempuannya, menantu dan empat orang cucunya. Yang aku tahu, hanya menantu dan bik Umi lah yang bekerja menafkahi keluarga itu. Cucu perempuan yang sudah cukup besar hanya berdiam dirumah dan cucu laki-laki yang paling tua seringkali berhenti dari kerjanya di pabrik-pabrik.
Dikala senggang aku suka mengajak Bik Umi bercakap-cakap. Orangtua itu sangat lugu dan nampak penuh tanggung jawab. Suatu ketika aku mengetahui bahwa Bik Umi sangat takut dengan suara halilintar. Dia bisa menggigil sambil bersimpuh dilantai apabila mendengar suara gemuruh itu, walaupun ia mendengarnya dari dalam rumah. Dia bilang badannya mendadak lemas dan jantung berdebar keras jika mendengar halilintar. Lalu dia akan serta merta minta ijin pulang walaupun pekerjaan belum selesai. “Nanti bibi lanjutkan besok pagi saja”, begitu katanya.
Tatkala aku mendapatkan Bik Umi tidak datang di suatu hari, karena sakit, aku pernah berkata pada ibu untuk meminta Bik Umi diistirahatkan saja. Aku tidak tega melihat perempuan diusia lima puluh tahun lebih itu masih memaksakan fisiknya bekerja walaupun hanya setengah hari. Tetapi ibu tidak bisa memberhentikan Bik Umi begitu saja. Masih ada rasa tidak enak hati bagi Ibu jika harus mengganti Bik Umi dengan orang lain.
“Kenapa bukan anak perempuannya saja Bu yang menggantikan Bik Umi?” begitu usulku pada Ibu. “Kalau tidak salah teh Tuti kan tidak ada kegiatan apa-apa dirumahnya?” lanjutku.
Aku yakin fisik anak Bik Umi tentulah lebih kuat dibandingkan kondisi ibunya. Dan kami pun tidak perlu memperkerjakan orang lain karena pengganti Bik Umi masih dari keluarganya sendiri. Lagi-lagi ibu hanya memberi ekspresi wajah sangsi atas usulku ini. “Sepertinya Tuti belum mau bekerja dengan kita karena masih ada anaknya yang paling kecil”.
“Loh, kan ada cucu perempuan bibi yang paling besar. Dia seharusnya bisa menjaga adiknya yang kecil sementara teh Tuti bekerja. Iya kan?”. Aku berusaha meyakinkan ibu untuk menyampaikan hal ini kepada Bik Umi. Keluarga bik Umi tidak akan kehilangan penghasilan jika anaknya Bik Umi mau bekerja menggantikan ibunya.
Tidak… sepertinya tidak ada yang tahu di lingkungan kami tinggal mengenai sosok Bik Umi yang di usia senja nya masih ikhlas bekerja keras demi menghidupi keluarganya.
Akhirnya ibu mengatakan akan mencoba lagi mengutarakan niat kami untuk ‘mengganti formasi’ tukang cuci dirumah. Kelihatannya simpel, namun hal ini berkaitan dengan nafkah dan harga diri seorang Bik Umi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar