Dear teman,
Buntu. Bukan soal usus buntu yang aku pikirkan dan sampaikan. Aku bukan orang medis yang memahami soal penyakit usus buntu atau penyakit lainnya. Aku memikirkan buntu yang lain.
Buntu. Bukan soal usus buntu yang aku pikirkan dan sampaikan. Aku bukan orang medis yang memahami soal penyakit usus buntu atau penyakit lainnya. Aku memikirkan buntu yang lain.
Selama ini kriminalitas seperti pencurian dan perampokan yang diberitakan di media massa kurang lebih karena alasan kebutuhan mendasar yang tidak bisa dipenuhi. Sulitnya mencari kerja untuk mendapatkan uang. Sulitnya mendapatkan uang untuk mencari makan. Sulitnya mencari makan untuk diri sendiri dan keluarga. Karena kesulitan yang membelengu, dan berlanjut dari hari ke hari, tibalah sampai satu titik ketika otak tidak lagi bisa berpikir jernih. Rasa takut lapar dan keluarga tidak bisa hidup dengan layak, membuat kita kalut. Dan untuk beberapa orang tidak membutuhkan waktu lama dari rasa kalut untuk kemudian pikiran menjadi buntu.
Ketika jalan lurus untuk mencari uang begitu sulit, maka yang kita tempuh adalah jalan pintas yang biasanya lebih dekat ke arah yang salah. Mencuri dan merampok seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang buntu. Yang aku pikirkan, mencuri dan merampok juga perlu siasat atau strategi loh agar calon target tidak mengetahui aksi ini atau jikapun si korban telah tahu akan aksi ini namun dia dibuat sedemikan rupa agar tidak berkutik. Bukankah itu perlu pemikiran matang pula? Jadi, sebetulnya tidak buntu-buntu amat dong ya pikiran mereka itu.
Bagi kaum perempuan yang juga telah menemui titik buntu, jalan pintas yang diambil lebih merugikan lagi. Menjual diri sepertinya cara mudah untuk mencari uang. Modalnya hanya tubuh dan keberanian untuk menawarkan diri. Tarif bisa ditentukan kemudian dengan pertimbangan apakah tubuh masih sintal dan keterampilan yang dimiliki sudah memadai. Penjualan diri bisa dilakukan sendiri atau dengan perantara. Semua itu dapat diatur sesuai keinginan si perempuan yang buntu.
Aku berpikiran beda bagi perempuan yang tertipu orang calo dan secara dipaksa oleh si calo atau majikan yang notabene mucikari, untukmenjual diri. Bisa jadi si perempuan itu tadinya berharap bahwa dia akan disalurkan kerja sebagai pembantu atau penjaga toko, sesuai iklan si calo sebelumnya. Namun karena kepolosan berpikir dan kurang waspada, sehingga penipuan pun menimpanya.
Suatu ketika aku dapat membedakan, di jaman yang serba sulit ini, apakah kita ingin mencari kerja atau ingin mencari uang. Mencari kerja konotasinya lebih ke bekerja di kantor, di pabrik, di supermarket. Mencari kerja seperti ini, sudah tentu membutuhkan modal pendidikan, modal uang, relasi, keterampilan, dan keberuntungan. Aku pikir-pikir… bagaimana kalo aku rubah cara pandang aku ini, bahwa sesungguhnya kita jangan melulu fokus dengan kegiatan mencari kerja. Aku akan coba dengan menggiatkan diri untuk mencari uang.
Mencari uang menurutku mempunyai pemahaman dan area yang lebih luas lagi. Mencari uang tidak harus di kantor, di pabrik, atau di mall yang mewah. Mencari uang membutuhkan modal yang beragam, mulai dari modal yang kecil sampai dengan modal yang besar. Lebih beruntung lagi bagi mereka yang mempunyai keterampilan khusus seperti pintar memasak, pintar menjahit, atau pintar menggambar. Itu juga merupakan modal yang tidak kalah penting. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya keterampilan khusus? Seperti aku misalnya, tidak pintar memasak, tidak pula menjahit. Mungkin kita bisa telaah lagi atau kita gali lagi didalam diri kita yang hampir buntu ini sebetulnya masih tersisa apa sih? Mungkin kita punya bakat berjualan, mungkin kita punya sedikit bakat menjadi penyalur barang-barang, atau mungkin sebetulnya kita punya kemampuan lain yang tidak kita sadari.
Aku sendiri ingin sekali mempunyai pemasukan sampingan selain pemasukan inti yang aku dapat setiap bulan. Ada juga keinginan untuk berhenti bekerja di tempat aku sekarang bekerja, dan memulai usaha sendiri di rumah. Ada juga keinginan untuk mempunyai kios di rumah dan juga ada usaha lain yang bisa aku jalani bersama keluarga. Semua ini aku rasakan dan aku pikirkan berkali-kali karena kebutuhan hidup aku yang terus meningkat. Kebutuhan untuk anak-anak yang bertambah seiring usia mereka. Juga keinginan untuk mempunyai tabungan yang cukup bagi masa depan aku dan anak-anak.
Setiap orang memiliki jalan pikiran masing-masing. Pemicu bagi setiap orang untuk melakukan sesuatu, itu tidak bisa disamaratakan. Pemicu aku berpikir untuk punya kios, mungkin akan berbeda dengan teman-teman lain. Aku yakin orang-orang diluar rumahku masih mempunyai ide-ide yang belum sempat direalisasikan, masih ada secercah kesempatan bagi kita yang punya keinginan.
Dan seperti yang kita ketahui bersama bahwa, keputusan yang kita ambil, langkah yang kita ambil, semua ada konsekuensinya. Entah itu positif atau negatif. Jika kita telah mengambil suatu keputusan untuk menjalani suatu hal, maka jalanilah dengan tekun. Namun, kita tidak perlu malu untuk mengakui kita salah, apabila jalan yang kita lalui itu memang salah. Bersegeralah untuk memperbaiki kesalahan kita, dan kita coba lagi langkah berikutnya yang lebih baik.
Di dunia ini kita menjalani hidup untuk sementara. Mengisi hidup ini dengan sebaik-baiknya kemampuan kita. Merawat anak-anak kita dan membimbing mereka hingga dewasa. Jika kita saat ini mengalami buntu, maka yang kita pikirkan adalah bukan jalan pintas yang menuju arah yang salah. Kita coba pikirkan jalan alternatif yang bisa menjadi pilihan yang lebih aman dan lebih baik bagi kita dan keluarga. Dan tidak merugikan orang lain.
Buntu, mungkin salah satu cara Tuhan menarik baju kita agar kita tidak selalu tergesa-gesa... untuk mengingatkan bahwa masih ada Dia yang mengatur rejeki kita, sebesar apapun rejeki itu, dan sekecil apapun rejeki yang kita terima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar