Minggu yang lalu saya jalani seolah kaki ini tidak menjejak tanah. Ada rapat tiga hari berturut-turut yang memakan hampir seluruhnya dari delapan jam waktu kerja yang saya punya. Ada tugas juga yang harus saya selesaikan tepat pada waktunya. Lalu bergegas pulang agar dapat sesegera mungkin bertemu anak-anak. Si sulung sedang menempuh ulangan umum di sekolahnya dan saya merasa wajib untuk lebih intens menemani dia belajar.
Teman-teman saya hampir setiap hari menyempatkan untuk mengobrol atau sekedar menyapa saya lewat Yahoo Messenger. Saya sama sekali tidak keberatan sepanjang mereka mengerti bahwa saya menjawab obrolan mereka disela-sela pekerjaan rutin. Dan ketika saya tiba di rumah, kami saling berkirim pesan lewat SMS. Teknologi informasi sekarang sepertinya mendekatkan kita lagi dengan kerabat dan kawan yang jarang kita temui.
Membahas video porno seolah tidak ada habisnya. Obrolan di kantor, tayangan di televisi, dan posting di internet. Luar biasa, kalau video itu dikenakan royalty sepertinya akan menuai Rupiah cukup banyak. Sayang sekali yang beraksi dalam video tersebut lupa atau khilaf bahwa itu tidak sesuai dengan kehidupan berkebangsaan di tanah Indonesia. Ditambah lagi si penyebar video tersebut betul-betul tidak menghiraukan dampak atas disebarkannya film porno itu yang tabu keluar dari kelambu kamar masing-masing.
Anak laki-laki yang paling besar berumur sepuluh tahun. Saya perhatikan dia tidak memberi komentar apa-apa tentang berita video porno itu padahal dia termasuk gemar nonton teve. Atau mungkin dia tidak menonton program-program yang menayangkan berita itu? Yang saya lihat, dia lebih antusias menonton film kartun dan animasi Jepang, juga iklan-iklan Piala Dunia 2010. Syukurlah Piala Dunia telah tiba, jadi setidaknya perhatian anak saya tidak terganggu dengan berita video porno.
Walhasil pembicaraan di mana-mana mulai beralih ke Piala Dunia dan khusus di Indonesia ada berita seru juga tentang pundi-pundi uang Gayus yang mencapai lebih dari 100 milyar Rupiah! Segelintir teman dekat ada yang menyinggung soal salah satu partai politik yang demen banget ikut-ikutan ngurusin RAPBN. Yang usul minta dana aspirasi lah, lalu ketika usul itu ditolak, dimajukan lagi usul dana pembangunan desa yang nilainya luarbiasa besar dan sudah pasti akan membuat defisit APBN. Tapi mungkin partai politik itu bilang, “itu kan nothing”… hampir mirip dengan komentar petinggi DPR sewaktu ditanya mengenai pembangunan gedung DPR yang baru yang mencapai trilyunan Rupiah.
Katanya lagi, dana pembangunan desa itu adalah dana bagi desa-desa yang telah menyumbangkan suaranya bagi partai masing-masing. Aduh, saya jadi tidak mengerti. Apakah partai telah bikin janji-janji kepada desa-desa tertentu dengan syarat harus menyumbangkan suara bagi partai tersebut? Saya sempat berpikir bagaimana jika uang simpanan Pak G kita pakai untuk nambahin dana RAPBN, nilai simpanannya kan fantastis.
Terus terang untuk orang awam seperti saya, memikirkan politik tidak sanggup, memikirkan soal pajak juga tidak mampu. Oh ya, bulan Maret lalu saya pontang-panting cari uang untuk bayar pajak tahunan saya. Kata teman, seharusnya saya membayarnya mencicil setiap bulan sehingga tidak terasa besar nanti di akhir tahun pajak, tetapi setiap bulan pun saya sulit membagi-bagi uang gaji saya untuk bayar pajak. Baru saja waktu itu saya setor ke salah satu bank, ketika makan siang di kantin kantor saya mendengar berita tentang pegawai pajak yang berlimpah uang gelap. Sakit rasanya hati ini.
Di akhir pekan kemarin saya menutup hari Jumat dengan berkumpul bersama rekan kerja dalam rangka perpisahan salah satu rekan yang akan kembali ke negaranya. Di hari Sabtu saya berbincang-bincang dengan teman wanita saya yang sedang mengalami kegundahan yang sangat berat. Betapa dia tertekan karena menjalani rumah tangga selama bertahun-tahun tanpa diperlakukan dengan baik dan hormat oleh pasangannya. Saya tidak kuasa untuk menahan air mata saat berpelukan dengan tubuh kurusnya. Betapa beranekanya problematika hidup manusia, setiap harinya, setiap minggunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar