Sabtu, 10 Desember 2011

Telaga: Asisten Rumah Tangga

Ada satu hal yang sudah beberapa minggu lalu membuat aku hampir putus asa.  Betapa sulitnya mencari asisten rumah tangga atau boleh ya aku mengatakan pembantu… supaya lebih akrab saja ditelinga.    Biasanya dulu cukup mudah mencari tenaga pembantu yang bersedia menginap untuk menjaga anak-anak sekaligus membantu pekerjaan rumah tangga.  Tapi sekarang…. ampun susahnya !

Aku sudah titip beberapa pesan sponsor kepada teman-teman, untuk mencarikan pembantu dengan syarat umur di atas 16 tahun, tidak buta huruf, sayang anak-anak dan bisa memasak !  Tugas-tugasnya standar saja, yang penting mau mengasuh anak dan bisa masak untuk makan anak-anakku.  Karena aku sejak pagi hingga sore menjelang malam sudah pasti di kantor dan tidak sempat secara penuh memperhatikan anak-anak.

Sebelumnya, aku pernah punya tenaga bantu-bantu yang tidak menginap.  Jadi bibi ini adalah warga dari kampung dekat komplek rumahku.  Dia datang pagi sebelum aku berangkat kerja dan dia akan pamit pulang setelah aku tiba di rumah di sore hari.  Orangnya cukup telaten terhadap anak-anak dan gesit pula.  Namun, beberapa minggu yang lalu dia mengundurkan diri karena sudah mulai sering sakit-sakitan dan sudah tidak sanggup lagi bekerja.  Sejak saat itu lah aku harus pontang panting mengurus anak-anak dan pergi bekerja.  

Pagi hari sebelum ke kantor, aku mampir ke rumah ibu dan menitipkan anak-anak di sana.  Sore menjelang malam, aku jemput anak-anak dan kami pulang ke rumah bersama-sama.  Terus seperti itu setiap hari…. 
Bersih-bersih rumah, cuci baju, setrika, mengurus anak-anak, pergi ngantor… hhhmmm…. Nikmat cape nya.  Untuk makan, aku memilih membeli masakan siap saji atau kadang-kadang ibu membekali kami masakan buatan beliau.  Terima kasih, ibu !

Inginnya sih mengajak ibu tinggal dirumahku untuk menemani kami.  Tapi, rasanya kok tidak manusiawi dan tidak sopan ya!  Kesannya kok ibu seperti diberdayakan.  Padahal dulu, ibu sudah cukup lelah merawat dan membesarkan aku.  Oleh karena itu, aku tidak mau membebani ibu terlalu banyak.  Cukup malu rasanya setiap hari harus menitipkan anak-anak kepada beliau, sedangkan beliau juga sudah sepuh. 

Pertengahan bulan lalu akhirnya doaku dikabulkan.  Teman baikku membawa kabar menyejukan hati di suatu pagi.  Dia akan mengantar calon pembantu ke rumahku.  Hatiku berdebar … hampir mirip seperti dulu ketika mau bertemu pacar baru… hi hi hi..

Kalau dipikir-pikir setelah banyak membaca artikel di internet, majalah dan koran, di luar negeri itu tidak mudah ya memiliki pembantu rumah tangga.  Khususnya di Eropa, Amerika dan Australia. Tenaga pembantu sangat mahal.  Umumnya keluarga dari golongan ekonomi menengah, mereka tidak memiliki pembantu.  Semua dikerjakan oleh anggota keluarga sendiri, khususnya perempuan.  Ada yang memang murni ibu rumah tangga, ada juga yang memilih kerja paruh waktu, sehingga mereka masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.  Sementara aku? Yang tinggal di rumah secomot ini, masih merengek-rengek mencari orang yang bisa bantu-bantu di rumah.  Hmm….

Aku punya teman yang pernah tinggal beberapa tahun di luar negeri.  Dia bekerja di kantor, sedang sang istri sepenuhnya mengurus rumah dan anak-anak.  Semua dikerjakan sendiri oleh mereka.  Padahal sewaktu di sini, mereka mempunyai satu pembantu dan satu supir untuk antar jemput anak-anak sekolah.

Ada lagi, temanku yang dulu sewaktu di sini segala sesuatunya dikerjakan oleh pembantu, sehingga ia tinggal berangkat kerja saja dan clubbing hampir setiap akhir pekan.  Setelah pindah ke luar negeri dan menikah dengan suami yang memang penduduk sana, temanku ini akhirnya bekerja paruh waktu. Setiap berangkat ke tempat kerja, dia menitipkan anaknya di tempat penitipan anak dulu, dan menjemputnya di sore hari ketika akan pulang ke rumah. Cuci baju seringkali ke tempat laundry.  Membersihkan rumah secara keseluruhan dan belanja, dia lakukan di akhir pekan.  Jadi yang rutin dia lakukan setiap hari adalah menyiapkan makan malam, sarapan dan menemani anak sepulang dia kerja. 

Kalau mendengar cerita dari orang-orang dan dari artikel-artikel yang aku baca, memang ada faktor-faktor tertentu yang menjadikan hidup di luar negeri itu tidak melulu tergantung pada pembantu rumah tangga.  Di luar negeri, umumnya instalasi listrik, air, telpon, gas, dan pembuangan sampah rumah tangga, sudah tertata rapi oleh pemerintah dan didukung oleh disiplin masyarakatnya.  Sudah banyak tersedia supermarket yang isinya lengkap, bersih, ekonomis, dan terjangkau dari lingkungan tempat tinggal.  Tempat penitipan anak (day care/child care) yang nyaman dan aman.  Dan yang tidak kalah penting, kultur hidup mandiri yang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk tidak bergantung kepada tenaga pembantu.  Panjang ceritanya kalau harus dibandingkan dengan situasi dan kondisi yang ada di negeri tempat aku tinggal ini.

Kembali ke calon pembantu yang akhirnya datang dan resmi tinggal bersamaku sekarang.  Anak gadis berumur 16 tahun, datang dari salah satu kampung.  Anaknya rajin, ceria, dan bisa meringankan pekerjaan rumahku sehari-hari.  Aku bersyukur tidak terlalu banyak mengajari dia cara mengurus dapur dan mengasuh anak, karena sebelumnya dia memang telah terbiasa bekerja seperti sekarang ini.  Dengan kata lain, aku bisa bilang, everything’s under control.

Ada satu hal yang masih bikin aku resah.  Ketika aku di rumah, anak bungsuku masih mencari aku kalau ingin susu, mandi, buang air, dan makan.  Dia menolak dipegang pembantu dan akan lari mencari aku.  Padahal sehabis pulang kantor, aku inginnya istirahat dulu sekedar leyeh-leyeh depan televisi.  Tapi ternyata tidak bisa!  Si bungsu akan bolak balik menghampiri aku meminta ini dan itu.  Uuuh gemasnya! 

Sewaktu kuceritakan uneg-unegku ini pada seorang teman, dia berkomentar, “Bagus dong, dia mencari ibunya daripada bibi.  Kamu mau nanti anakmu tidak kenal lagi sama kamu dan lebih sayang sama bibi nya…?”

OK… baiklah, aku tidak mau bersaing untuk mendapatkan cinta anakku.  Sini sayang, sama bunda yah!


Telaga: Berteman Tanpa Risau

Tidak tahu awalnya dari mana ketika aku mendengar cerita beberapa teman-teman yang sekarang ini bertambah kesibukannya karena bergabung di lebih dari dua grup salah satu smartphone.  Yang aktif dan terbuka, dia bisa cerita sana-sini dan ketawa sana-sini.  Yang kurang aktif bicara (atau mengetik) dia hanya sekedar menimpali atau tertawa atau memberi lambang/icon tertentu. Yang pasif namun penasaran… hmm… dia paling hanya membaca tulisan teman-temannya tanpa berkomentar apa-apa, paling banter senyum-senyum sendiri atau geleng-geleng kepala.

Satu temanku bercerita tentang kegundahannya akan fenomena grup smartphone ini.  Dia mengaku ditawari  oleh salah satu temannya untuk bergabung dengan grup teman-teman satu angkatan di sekolah nya dulu.  Menyadari bahwa temanku ini belum siap untuk menjadi bagian dari grup yang dia yakini tidak semua anggotanya dia kenal baik, maka dia menolak halus tawaran untuk bergabung.  Nanti saja ya, begitu jawabannya kepada temannya tersebut.

Di waktu berikutnya, temanku ini bergabung dengan grup smartphone rekan sekantornya dan grup teman-teman satu kelas nya di SMA yang memang benar-benar dia kenal baik.  Di kedua grup ini rasanya dia nyaman dan bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Dan seperti ada komitmen tidak terucap diantara teman-teman lama nya ini bahwa tidak ada yang boleh marah jika ada bercanda atau mengejek satu sama lain.  Semua candaan dan ejekan semata-mata hanya penghapus kejenuhan dari rutinitas kerja atau dengan kata lain candaan itu hanya di tulisan saja, bukan serius dari dalam lubuk hati :).

Sekarang aku jadi keterusan memikirkan soal maraknya grup-grup  smartphone yang sedang menjadi trend di lingkunganku.  Jika kita diundang untuk gabung di salah satu grup, kita boleh kan menolak undangannya untuk tidak bergabung?  Seperti yang telah dilakukan oleh temanku tadi.  Karena aku pikir, sungkan juga jika kita memang belum siap bergabung dengan individu-individu yang tidak kita kenal baik.  Bagaimana jika nanti kita melontarkan humor atau candaan yang ternyata tidak diterima oleh anggota grup yang lain dan berlanjut ke konflik?  Hal itu bisa terjadi apabila kita memang tidak mengenal tabiat masing-masing anggota.  Atau, karena saking sungkannya semua anggota grup, sehingga ruang ngobrol/ruang chat jadi jarang ditulisi cerita-cerita, sepi, garing, seperti kota mati (haadeuuhh…).

Ketika kita sudah terlanjur berada di salah satu grup smartphone yang akhirnya kita sadari bahwa kita tidak berkenan berada didalamnya atau tidak nyaman menjadi anggotanya, boleh juga kan kalau kita mengundurkan diri atau dengan kata lain, leave the group? Terkadang kita juga kan suka melakukan kekhilafan.  Setelah kita bergabung, ternyata kok grup nya begini ya… kurang sreg dengan kita, lalu sering ada tulisan-tulisan dan komentar-komentar yang menusuk hati kita.  Yah, itu dia kejadiannya jika kita memang tidak saling mengenal dengan baik tabiat para anggotanya, karena sebelumnya kita memang tidak berteman dekat.  Dan kalaupun mau dipaksakan untuk berusaha mengenal lebih dekat dengan mereka lewat grup smartphone tersebut, rasanya terlalu menguras waktu dan pikiran juga dikarenakan kendala waktu kita yang telah tersita untuk bekerja atau beraktifitas yang lain.

Menurut aku pribadi, ini pendapatku ya, jika ingin menjalin tali silaturahim dan menambah pertemanan, bergabung dengan salah satu social network yang marak di dunia internet, itu sudah cukup.  Di situ, kita bisa berkenalan, bertegur sapa, saling lepas kangen, berbagi foto-foto jadul, saling beri komentar lucu dan saling memberi dukungan jika membaca status teman yang sedang galau.  Di salah satu social network yang mana aku ikut ambil bagian sebagai user/pemakai, aku pribadi bisa sesuka hatiku menulis status di dinding akun milikku, tapi dengan tetap memperhatikan unsur SARA ya.  Dan status yang aku tulis lebih dominan potongan lirik lagu-lagu cinta…. He he he…  Lalu komentar yang biasa ditulis oleh teman-temanku juga beraneka ragam, dan sampai saat ini aku masih bisa terima komentar mereka, walaupun itu ada ledekan atau sindiran halus, aku asyik-asyik aja.

Perihal grup smartphone yang kadang membuat risau… aku pribadi lebih memilih untuk hanya berkomitmen dengan teman-teman yang aku kenal dekat saja.  Untuk grup smartphone di lingkungan kerja aku, ada manfaat lain, yakni mengirit biaya telpon dan sms juga.  Karena dengan mengirim pesan di grup smartphone, aku bisa memberi kabar berita yang harus diketahui oleh orang-orang di lingkungan kerjaku, dengan gratis… hi hi hi…

Ujung-ujungnya… semua pilihan berpulang pada individu masing-masing.  Kita bebas memutuskan dan memilih apa yang diinginkan dan dirasakan nyaman bagi diri kita. 

Jadi…. Gimana?  Sudah siap untuk berbagi cerita suka duka dan tawa?  Peace on earth, my friends !!