Tidak tahu awalnya dari mana ketika aku mendengar cerita beberapa teman-teman yang sekarang ini bertambah kesibukannya karena bergabung di lebih dari dua grup salah satu smartphone. Yang aktif dan terbuka, dia bisa cerita sana-sini dan ketawa sana-sini. Yang kurang aktif bicara (atau mengetik) dia hanya sekedar menimpali atau tertawa atau memberi lambang/icon tertentu. Yang pasif namun penasaran… hmm… dia paling hanya membaca tulisan teman-temannya tanpa berkomentar apa-apa, paling banter senyum-senyum sendiri atau geleng-geleng kepala.
Satu temanku bercerita tentang kegundahannya akan fenomena grup smartphone ini. Dia mengaku ditawari oleh salah satu temannya untuk bergabung dengan grup teman-teman satu angkatan di sekolah nya dulu. Menyadari bahwa temanku ini belum siap untuk menjadi bagian dari grup yang dia yakini tidak semua anggotanya dia kenal baik, maka dia menolak halus tawaran untuk bergabung. Nanti saja ya, begitu jawabannya kepada temannya tersebut.
Di waktu berikutnya, temanku ini bergabung dengan grup smartphone rekan sekantornya dan grup teman-teman satu kelas nya di SMA yang memang benar-benar dia kenal baik. Di kedua grup ini rasanya dia nyaman dan bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Dan seperti ada komitmen tidak terucap diantara teman-teman lama nya ini bahwa tidak ada yang boleh marah jika ada bercanda atau mengejek satu sama lain. Semua candaan dan ejekan semata-mata hanya penghapus kejenuhan dari rutinitas kerja atau dengan kata lain candaan itu hanya di tulisan saja, bukan serius dari dalam lubuk hati :).
Sekarang aku jadi keterusan memikirkan soal maraknya grup-grup smartphone yang sedang menjadi trend di lingkunganku. Jika kita diundang untuk gabung di salah satu grup, kita boleh kan menolak undangannya untuk tidak bergabung? Seperti yang telah dilakukan oleh temanku tadi. Karena aku pikir, sungkan juga jika kita memang belum siap bergabung dengan individu-individu yang tidak kita kenal baik. Bagaimana jika nanti kita melontarkan humor atau candaan yang ternyata tidak diterima oleh anggota grup yang lain dan berlanjut ke konflik? Hal itu bisa terjadi apabila kita memang tidak mengenal tabiat masing-masing anggota. Atau, karena saking sungkannya semua anggota grup, sehingga ruang ngobrol/ruang chat jadi jarang ditulisi cerita-cerita, sepi, garing, seperti kota mati (haadeuuhh…).
Ketika kita sudah terlanjur berada di salah satu grup smartphone yang akhirnya kita sadari bahwa kita tidak berkenan berada didalamnya atau tidak nyaman menjadi anggotanya, boleh juga kan kalau kita mengundurkan diri atau dengan kata lain, leave the group? Terkadang kita juga kan suka melakukan kekhilafan. Setelah kita bergabung, ternyata kok grup nya begini ya… kurang sreg dengan kita, lalu sering ada tulisan-tulisan dan komentar-komentar yang menusuk hati kita. Yah, itu dia kejadiannya jika kita memang tidak saling mengenal dengan baik tabiat para anggotanya, karena sebelumnya kita memang tidak berteman dekat. Dan kalaupun mau dipaksakan untuk berusaha mengenal lebih dekat dengan mereka lewat grup smartphone tersebut, rasanya terlalu menguras waktu dan pikiran juga dikarenakan kendala waktu kita yang telah tersita untuk bekerja atau beraktifitas yang lain.
Menurut aku pribadi, ini pendapatku ya, jika ingin menjalin tali silaturahim dan menambah pertemanan, bergabung dengan salah satu social network yang marak di dunia internet, itu sudah cukup. Di situ, kita bisa berkenalan, bertegur sapa, saling lepas kangen, berbagi foto-foto jadul, saling beri komentar lucu dan saling memberi dukungan jika membaca status teman yang sedang galau. Di salah satu social network yang mana aku ikut ambil bagian sebagai user/pemakai, aku pribadi bisa sesuka hatiku menulis status di dinding akun milikku, tapi dengan tetap memperhatikan unsur SARA ya. Dan status yang aku tulis lebih dominan potongan lirik lagu-lagu cinta…. He he he… Lalu komentar yang biasa ditulis oleh teman-temanku juga beraneka ragam, dan sampai saat ini aku masih bisa terima komentar mereka, walaupun itu ada ledekan atau sindiran halus, aku asyik-asyik aja.
Perihal grup smartphone yang kadang membuat risau… aku pribadi lebih memilih untuk hanya berkomitmen dengan teman-teman yang aku kenal dekat saja. Untuk grup smartphone di lingkungan kerja aku, ada manfaat lain, yakni mengirit biaya telpon dan sms juga. Karena dengan mengirim pesan di grup smartphone, aku bisa memberi kabar berita yang harus diketahui oleh orang-orang di lingkungan kerjaku, dengan gratis… hi hi hi…
Ujung-ujungnya… semua pilihan berpulang pada individu masing-masing. Kita bebas memutuskan dan memilih apa yang diinginkan dan dirasakan nyaman bagi diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar