Beberapa minggu terakhir ini, kita diramaikan oleh pertunjukan panggung politik. Dramatis nya melebihi sinetron televisi yang mengumbar amarah, sedih, benci, tawa, dan air mata.
Aku kurang detil menyimak berita-berita politik tanah air. Kalau baca surat kabar, aku pilih headlines nya saja dulu. Jika disitu tertulis bersambung ke halaman sekian, yah males deh untuk meneruskan baca. Inginnya sih surat kabar itu jika menulis berita tidak usah bersambung-bersambung ke halaman sekian deh ! he he he... ya tidak mungkin dong, bagaimana dengan berita penting lain nya ? Berarti mereka tidak kebagian ruang di halaman depan surat kabar. Ngawur aja !
Di rumah aku berlangganan surat kabar lokal setiap hari, dan membeli surat kabar nasional setiap hari Sabtu dan Minggu saja. Nah, aku ingin menyarankan kepada teman-teman semua agar mau membeli rutin surat kabar lokal kota anda tinggal. Kenapa? Karena kami di rumah merasakan manfaatnya dengan berlangganan surat kabar lokal kota tempat kami tinggal. Bukan saja harganya yang ekonomis namun kita dapat mengetahui apa-apa saja yang terjadi di kota kita itu. Berita pembangunan kota, berita kriminal yang terjadi di kota kita, berita wisata dan kuliner, dan lain sebagainya.
Kemudian muncul sedikit masalah atau dampak lain dari rajinnya berlangganan surat kabar ini. Lama-lama menumpuklah kertas koran tidak terpakai di sudut rumah. semakin tinggi semakin enak untuk tikus dan kecoa bermain di sana. Hmm... jaman sekolah dulu, aku dan ibu beberapa kali memanfaatkan koran bekas bertumpuk untuk ditimbang alias dikilo dan dijual ke penampung yang suka berkeliling kampung kami. Lumayan loh uang hasil jual koran bekas bisa untuk jajan atau dipakai ibu untuk belanja bumbu dapur... he he he..
Sekarang... tumpukan koran bekas selalu kami berikan ke tukang-tukang sayur yang setiap hari lewat di komplek perumahan kami tinggal. Syukurlah para tukang sayur tidak ada yang menolak jika kita tawarin koran bekas untuk mereka bawa. Akhirnya, tikus tidak punya tempat bermain, rumah tidak sumpek dan tukang sayur pun senang!
Balik lagi ke berita politik yang aku baca di surat kabar beberapa minggu lalu. Beritanya terus berkembang setiap hari bahkan Sidang Praperadilan sudah selesai dibacakan keputusannya. Lalu kertas-kertas surat kabar minggu lalu sudah berubah warna, agak usang kecoklatan, menjadi onggokan koran bekas di sudut rumahku.
Tinggal menunggu tukang-tukang sayur lewat depan rumah.... Ini Mang, koran bekas untuk bungkus-bungkus belanjaan, mau nggak ?
Selasa, 24 Februari 2015
Kamis, 29 Januari 2015
INGKAR JANJI
Sepenuh hati aku mengakui telah ingkar janji .... pada diriku sendiri. Sewaktu memulai blog ini aku berjanji dengan semangat tinggi bahwa satu minggu sekali aku setidaknya harus menulis di blog ini. Menulis apa saja, kejadian yang aku alami selama seminggu itu ... atau ada kisah kilas balik yang aku ingin share di sini.
Tetapi, janji tinggal janji (seperti lagu cinta!) ... bablas aja! berbulan-bulan tidak buka blog. Bahkan hit rekor kata "tahun". Hhhh... kesannya enggak niat ya?!
Kalau dirunut-runut lagi rupanya ingkar janji ini karena aku kesulitan meluangkan waktu untuk menulis di blog. Pagi sampai sore banget kerja di luar rumah. Sampai rumah ganti kostum rumahan mengurus anak-anakku tercinta (peluuk..).
Saat akhir pekan? he he... selalu ada saja yang dikerjakan seperti bikin kue-kue pesanan anak-anak. Atau bahkan, kebalikannya, aku kelewat santeeyy aja gituh! Lalu, Laptopku mana ya? kok ya motivasi menulis seperti menguap ?
Motivasiku untuk menulis memang betulan diambang titik nadir nih ! Padahal keterampilan menulis harus terus diasah bagi pemula seperti aku. Motivasi membaca buku untungnya masih membara. Jadi aku "nggak blank banget" ! (pinjam istilah anakku yang ABG).
Bagaimana caranya agar aku rajin nulis blog tetapi dengan caraku sendiri, semampunya otakku bekerja? ..... hhhh (membatin)
Akhirnya diriku ini memutuskan nasib blog-ku agar tetap aktif. Artinya aku harus mulai menulis lagi. Ya... me-nu-lis. Kali ini aku tidak mau berjanji bahwa akan menulis di blog seminggu sekali karena aku khawatir kembali ingkar janji. Jadi aku menetapkan hati, menulis kapanpun aku bisa dan sempat. Misalnya, posting seminggu sekali, atau enam bulan sekali, atau mungkin ... seminggu tujuh kali posting ? .. hmm semoga ada solusi terbaik dari NYA. (aamin)
Tetapi, janji tinggal janji (seperti lagu cinta!) ... bablas aja! berbulan-bulan tidak buka blog. Bahkan hit rekor kata "tahun". Hhhh... kesannya enggak niat ya?!
Kalau dirunut-runut lagi rupanya ingkar janji ini karena aku kesulitan meluangkan waktu untuk menulis di blog. Pagi sampai sore banget kerja di luar rumah. Sampai rumah ganti kostum rumahan mengurus anak-anakku tercinta (peluuk..).
Saat akhir pekan? he he... selalu ada saja yang dikerjakan seperti bikin kue-kue pesanan anak-anak. Atau bahkan, kebalikannya, aku kelewat santeeyy aja gituh! Lalu, Laptopku mana ya? kok ya motivasi menulis seperti menguap ?
Motivasiku untuk menulis memang betulan diambang titik nadir nih ! Padahal keterampilan menulis harus terus diasah bagi pemula seperti aku. Motivasi membaca buku untungnya masih membara. Jadi aku "nggak blank banget" ! (pinjam istilah anakku yang ABG).
Bagaimana caranya agar aku rajin nulis blog tetapi dengan caraku sendiri, semampunya otakku bekerja? ..... hhhh (membatin)
Akhirnya diriku ini memutuskan nasib blog-ku agar tetap aktif. Artinya aku harus mulai menulis lagi. Ya... me-nu-lis. Kali ini aku tidak mau berjanji bahwa akan menulis di blog seminggu sekali karena aku khawatir kembali ingkar janji. Jadi aku menetapkan hati, menulis kapanpun aku bisa dan sempat. Misalnya, posting seminggu sekali, atau enam bulan sekali, atau mungkin ... seminggu tujuh kali posting ? .. hmm semoga ada solusi terbaik dari NYA. (aamin)
Langganan:
Postingan (Atom)