Minggu-minggu kemarin aku lalui dengan basah dan lelah. Setiap hari hujaaaan… Kadang hanya hujan saja, tapi lain hari hujan ditambah angin kencang. Belum lagi kilatan petir dan halilintar menggelegar. Setiap petir berkilat tajam, seolah-olah aku sedang difoto oleh langit … hehehe…
Aku baru benar-benar memperhatikan struktur bangunan kantor di kotaku ini yang terkenal dengan hujan dan petirnya, sepertinya harus mempertimbangkan unsur-unsur kelistrikan. Penangkal petir itu sudah wajib hukumnya, baik untuk alat-alat listrik maupun untuk telepon dan mesin pabx. Pemasangan grounding sampai zero level perlu dilakukan di beberapa titik lahan kosong di area kantorku. Lalu saluran air di area kantor juga harus dipertimbangkan, mengingat volume hujan tinggi dan halaman kantor masih banyak pohon yang menggugurkan dedaunan dan dapat menyumbat saluran air atau selokan.
Kalau soal bawa payung sih dari jaman sekolah SD aku selalu nyimpan di tas walaupun di saat musim kemarau. Rajin nggak sih!? Nah, setelah remaja dan beranjak dewasa, mulai males deh bawa-bawa payung apalagi kalau cuaca tidak menunjukkan akan turun hujan. Biasanya aku tanya ibuku apakah perlu bawa payung. Kalau ibuku bilang bawa, yes, berarti aku taruh payung dalam tas. Kadang dugaan ibu benar, dan kadang juga keliru. Yaa nggak apa-apa juga, toh ibuku bukan bertugas meramal cuaca. Yang penting aku tenang karena mengikuti omongan ibu.
Di sepanjang jalan berangkat dan pulang kantor jika kondisi hujan, ada saja pemandangan yang mengharukan dan menggelikan… juga yang bikin emosi naik. Hhmm… aku tuh dari dulu entah kenapa paling kagok kalau harus naik atau turun angkot sambil harus menutup atau membentangkan payung. Yang ada itu ribet dan ribet. Padahal kalau soal keseimbangan badan, aku sama sekali nggak punya masalah. Hanya saja perihal payung ini yang bikin aku tegang jiwa raga.
Ketika aku berdiri di trotoar sambil berpayung ria, lalu angkot menepi. Aku mau naik dong. Nah, apa dulu sih yang harus aku lakukan? Apakah aku naik dulu, membelakangi penumpang, sambil menutup payung yang masih membentang di pintu angkot? Atau … aku berdiri depan pintu angkot, menutup payung, baru kemudian naik masuk angkot? Basah dong ya… duuhhh…!
Dan moment memalukan pun aku alami, kawan. Ketika aku di dalam angkot, lalu hujan mulai turun perlahan namun pasti, dan akhirnya deras ia mengguyur tanah bumi. Aku mulai was-was karena aku tahu detik-detik pergulatannku dengan payung akan tiba. Beberapa meter lagi, aku harus turun dan berganti angkot dengan tujuan ke rumah. Saat aku minta berhenti, pak supir dengan damai memberhentikan angkotnya masih agak ditengah jalan. Dia bilang, “itu pinggirannya dalam neng, takut ban kejeblos” …. Deeuuhh… bisa ya supir bilang begitu. Tega dia membiarkan aku harus turun masih agak ditengah jalan.
Aku taruh ransel di pundak, tempat bekal kutenteng di tangan kiri sambil siap-siap hendak turun angkot. Payung hendak aku bentangkan saat aku menapak turun dari pintu angkot. Tapi apa daya… aku manusia penuh kekurangan. Dan akrobat pun terjadi, angin membuat aku tidak bisa mengendalikan payung yang baru aku bentangkan. Tangan kiri yang menenteng tempat bekal makan siangku, melemah dan lepaslah semua tentenganku…. Tempat bekal ku (ada 3 ompreng) berantakan di jalan raya !
Duuh… sambil menahan malu karena banyak orang yang sedang berteduh dipinggir toko melihat atraksiku ini, aku harus memunguti barang-barangku yang berserakan di jalan. Payung terlipat layu dan aku basah kuyup. Untuk skala 0 sampai 10, harga diriku sudah di angka satu rasanya. Serunya lagi, tidak ada yang membantuku saat itu. Aku maklum juga, karena kondisi hujan deras, setiap orang melindungi dirinya masing-masing dari air hujan yang bisa bikin masuk angin dan sakit kepala.
Hmm… saat aku sudah duduk di angkot berikutnya, masih juga harus menunggu karena penumpang memang belum memenuhi kuota yang ditargetkan pak supir. Ada beberapa anak kecil mengojek payung dengan badan menggigil kedinginan, bibir pucat dan tangan kecilnya memegang erat payung ukuran jumbo miliknya. Iya … nasibku masih lebih baik rasanya dibandingkan mereka. Aku tidak harus mengojek payung waktu kecil. Aku tidak harus mencari uang tambahan waktu masih sekolah berseragam putih merah.
Rasa nelangsa pada diri sendiri yang tadi telah berakrobat di jalan, pupus sudah. Ada yang lebih menyayat hati, melihat perjuangan ojeker payung cilik yang menggigil ditengah hujan deras dan angin kencang. Mudah-mudahan mereka mendapat rejeki cukup dan pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Tidak ada usaha baik yang sia-sia. Itu sudah janji Tuhan.
Kulihat payungku terlipat lusuh, ada patah di dua tangkainya. Tidak apa-apa lah, ini sih soal kecil …hmm..