Jumat, 30 September 2011

Telaga: As-Syifa Alif

Dear teman,

Anak ke dua saya adalah perempuan, bernama As-Syifa Alif yang lahir tahun 2005.  Menurut diagnosa Dokter, Syifa lahir dengan status gawat janin dan microcephalus.  Dari microcephalus ini anak saya mengalami spasticity atau kekakuan pada sendi dan otot tubuhnya.  Dokter Anak dan Dokter Rehabilitasi Medik juga mengatakan bahwa Microcephalus-nya akan memperlambat perkembangan otak Syifa.  Saya mengerti bahwa Syifa kemungkinan akan tumbuh sedikit terlambat dibandingkan dengan anak-anak seusia dia.

Sejak usia 3 bulan Syifa mengikuti terapi di klinik tumbuh kembang di Rumah Sakit di Bogor.  Terapi ini untuk menstimulus syaraf dan otot nya agar dapat melakukan gerakan sesuai dengan yang seharusnya.   Kalau saya hitung-hitung, kurang lebih dua setengah tahun pertama dikehidupan Syifa, diisi dengan jadwal terapi. 

Syifa memang terlahir dengan kondisi fisik yang mudah sakit.  Tahun 2008, Syifa mulai terkena Asthma Bronkial, lalu diikuti dengan sakit Tuberculosis (TB) yang akhirnya Syifa mengikuti program pengobatan selama 9 bulan dan program ini telah tuntas kami jalani.

Pada saat usia Syifa sekitar 2.5 tahun, kami berhenti dari program terapi di klinik tumbuh kembang.  Setiap waktu kami usahakan untuk melatih Syifa di rumah agar tidak jauh tertinggal dari anak sebaya dia. 

Terlepas dari mudahnya Syifa jatuh sakit dan badannya yang sangat kurus, saya lihat anak ini energik, ceria dan ramah bahkan pada orang asing sekalipun. Keluarga besar kami selalu terhibur dengan kehadiran Syifa.  Dia dapat dengan mudah ngobrol dan bernyanyi didepan orang-orang yang baru dia kenal. 

Syifa cukup sering meminjam handphone saya.  Tanpa pernah saya ajari, ternyata dia bisa memotret, shooting video dan merekam suara di handphone.  Karena belum bisa baca tulis tentunya hasil potret, video clip dan rekaman tersebut dia save dengan nama yang tidak beraturan.  Kesenangannya untuk otak-atik barang juga terlihat jika dia menjungkir-balikan mobil-mobilan dan dia periksa periksa ban atau “body” mobil nya, atau dia juga seringkali memeriksa sepedanya seakan-akan ada sesuatu yang dia perbaiki.  Lain halnya jika sifat ‘kewanitaannya’ timbul, dia bisa asyik bermain boneka dan menggendongnya kesana kemari.
Bulan Juni 2009 Syifa menginjak 4 (empat) tahun dan dia masuk sekolah Taman Kanak-Kanak kelas A atau TK kecil.  Setiap saya pulang kantor, saya seringkali mendengar Syifa membaca doa-doa dan menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di sekolah. 

Tahun 2011 ini, Syifa menginjak 6 tahun dan saya mendaftarkan dia di sebuah sekolah dasar negeri.  Namun, entah mengapa, Syifa hanya mau sekolah satu minggu saja. Setelah itu dia tidak pernah mau masuk sekolah lagi.  Saya sudah mencoba bertanya pada Syifa baik-baik mengapa dia tidak mau lagi masuk sekolah, tetapi jawabannya tidak jelas. Bujukan dan ajakan untuk berangkat sekolah tidak dia gubris, sampai akhirnya saya menyerah.

Setiap hari setelah mogok sekolah, Syifa bermain di rumah, rutin buka laptop dan bermain games. Saya berusaha meluangkan waktu walau hanya setengah jam sehari untuk mengajak dia belajar membaca, menulis dan mengenal angka.  Kemajuannya lambat (dibandingkan kemampuan dia membuka internet) namun saya masih berpikir… ok, tidak apa-apa, perlahan-lahan Syifa akan mengenal rutinitas belajar di rumah.

Akhirnya dalam waktu dekat ini, saya mendaftarkan Syifa untuk mengikuti les privat seminggu dua kali pertemuan, untuk melancarkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.  Dan saya akan juga mencoba mengunjungi psikolog anak untuk berkonsultasi mengenai kondisi Syifa.

Kami masih tetap mengajak Syifa untuk menggambar dan mewarnai atau menyusun gambar, dengan maksud kami ingin menstimulasi motorik halusnya juga agar seimbang dengan motorik kasarnya.  Saya perhatikan dia menyukai aktifitas menggambar dan bermain laptop.  Dan dia memang senang menggambar walaupun hasilnya masih jauh dari sermpurna.  Beberapa hari lalu dia menggambar 2 wajah yang sedang tersenyum, lalu sambil menunjuk gambarnya, Syifa berkata: “ ini bunda dan ini aku”.  Wah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar