Jico sayang, apa kabar?
Aku datang kembali ke kampung kelahiran ini yang sudah lama kutinggalkan. Baru saja kulewati rumahmu yang asri. Tidak ada yang berubah di sana. Pohon jambu yang sedang berbunga itu pasti membuatmu sibuk setiap pagi. Aku tidak mampir pagi ini Jic, nantilah setelah aku bertemu paman bibi dulu agar mereka tidak mengkhawatirkan aku jika tak kunjung datang juga. Kau tahu sendiri kan, kita seringkali lupa waktu bertemu dan berbincang-bincang, apalagi kali ini aku datang dengan rindu memenuhi hati.
Jico, aku kangen dengan wajah polosmu yang seringkali mengecohku. Aku masih ingat, dulu kamu kuanggap sebagai orang paling iseng sedunia, dan senang melihat aku kesal karena keisengan yang kamu buat. Tetapi di lain waktu, kau setia menunggui aku yang menangis di pinggir sungai, takut dimarahi Ibu, karena sandal kulit kesayangan beliau yang kupakai ternyata hanyut terbawa arus.
Sahabatku, sekarang aku sudah menginjak usia 23 tahun, dan belum lama ini resmi menjadi sarjana. Kau sendiri bagaimana? Bertambah dewasa tentunya, dan kulit semakin cokelat karena keseringan mendaki gunung. Oh ya, aku ingat peristiwa mengharu biru di kaki Gunung Salak dimana saat itu kakiku terkilir juga terluka karena jatuh pada saat menuruni lereng gunung. Tanpa pikir panjang, kau menggendongku dan mulai berjalan perlahan-lahan menuruni jalan setapak sampai menemukan tempat istirahat sementara untuk mengobati kakiku. Setelah itu kamu berusaha menghubungi teman-teman lain agar aku segera mendapatkan pertolongan. Raut wajahmu menunjukkan kepanikan. Aku tidak bisa melupakan momen itu Jic.
Jico, dalam suratmu kau pernah menulis ingin punya gadis yang mau mengerti dirimu. Bagaimana, apakah sudah kau dapatkan gadis impianmu itu? Sepertinya tidak mudah mencari seseorang yang mau menerima dan menyayangi kita apa adanya di masa kini, dimana orang mulai sulit mendefinisikan apa itu kasih dan sayang. Apakah perasaan yang luhur itu senilai dengan banyaknya simpanan kita di Bank? Apakah perlu ada penelusuran bibit, bebet, bobot sebelum kita menyatakan cinta pada seseorang? Entahlah, sampai saat ini aku tidak pernah bisa mendapatkan jawaban tentang hal itu.
Dan, yah …Akhirnya langkahku ini berhenti di depan pagar rumah yang dulu kutempati. Tangis haru kudapatkan dari bibi dan paman yang menyambutku sambil berlari kecil. Keadaan kamar tidurku tidak berubah, sama seperti terakhir kali kutinggalkan. Tempat tidur dengan seprai biru tanpa motif, lemari baju dan meja kecil dengan taplak meja putih ditambah vas kembang biru yang dibiarkan tak terisi. Kualihkan perhatian ke kebun bunga yang sepetak kecil itu yang masih terawat dengan baik. Kata Bibi kau masih rajin datang kemari untuk merawat kebunku ini, Jic. Aku senang mendengarnya, ternyata perhatianmu tidak putus walaupun aku telah lama pergi meninggalkan kampung kita.
Jico yang baik, sore nanti aku akan datang mengunjungi keluargamu. Untuk melepas rindu dengan orang-orang yang dulu senantiasa memberiku perhatian selain keluargaku sendiri. Juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang harus kamu jawab sejujurnya. Mengapa selama dua tahun terakhir kamu tidak pernah menulis surat lagi atau setidaknya membalas surat-suratku? Sikapmu itu membuatku bertanya-tanya akan keadaan kamu selama ini. Dan aku rasa itu bukan kebiasaanmu berlaku misterius seperti ini yang membuatku penasaran dan juga cemas memikirkanmu.
Aku sering berpikir apakah kau selalu dalam keadaan sehat, sedang berbahagia, atau kah sakit karena patah hati? Demi Tuhan, jangan biarkan hatimu terluka Jic. Semua orang di kampung ini tahu bahwa kamu orang baik dan kamu begitu tulus dalam berteman. Kamu selalu berada diantara orang-orang yang membutuhkanmu. Siapakah orang yang telah membuatmu merana? … Ah sepertinya aku melantur terlalu jauh.
Jico sayang, aku mau rebahan dulu sebentar. Tunggulah kedatanganku sore ini. Buah tangan untukmu sudah kusiapkan dalam tas terpisah. Aku memilih kebun belakang milikmu sebagai tempat bertukar cerita nanti. Kalau kau masih ingat, di tempat itulah, lima tahun yang lalu, kau memberiku ciuman di kening, tanda perpisahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar