Selasa, 24 Februari 2015

Sepenggal Perjalanan Surat kabar

Beberapa minggu terakhir ini, kita diramaikan oleh pertunjukan panggung politik.  Dramatis nya melebihi sinetron televisi yang mengumbar amarah, sedih, benci, tawa, dan air mata.

Aku kurang detil menyimak berita-berita politik tanah air. Kalau baca surat kabar, aku pilih headlines nya saja dulu.  Jika disitu tertulis bersambung ke halaman sekian, yah males deh untuk meneruskan baca.  Inginnya sih surat kabar itu jika menulis berita tidak usah bersambung-bersambung ke halaman sekian deh !  he he he... ya tidak mungkin dong, bagaimana dengan berita penting lain nya ?  Berarti mereka tidak kebagian ruang di halaman depan surat kabar.  Ngawur aja !

Di rumah aku berlangganan surat kabar lokal setiap hari, dan membeli surat kabar nasional setiap hari Sabtu dan Minggu saja.  Nah, aku ingin menyarankan kepada teman-teman semua agar mau membeli rutin surat kabar lokal kota anda tinggal.  Kenapa?  Karena kami di rumah merasakan manfaatnya dengan berlangganan surat kabar lokal kota tempat kami tinggal.  Bukan saja harganya yang ekonomis namun kita dapat mengetahui apa-apa saja yang terjadi di kota kita itu.  Berita pembangunan kota, berita kriminal yang terjadi di kota kita, berita wisata dan kuliner, dan lain sebagainya.

Kemudian muncul sedikit masalah atau dampak lain dari rajinnya berlangganan surat kabar ini.  Lama-lama menumpuklah kertas koran tidak terpakai di sudut rumah. semakin tinggi semakin enak untuk tikus dan kecoa bermain di sana.  Hmm... jaman sekolah dulu, aku dan ibu beberapa kali memanfaatkan koran bekas bertumpuk untuk ditimbang alias dikilo dan dijual ke penampung yang suka berkeliling kampung kami. Lumayan loh uang hasil jual koran bekas bisa untuk jajan atau dipakai ibu untuk belanja bumbu dapur... he he he..

Sekarang... tumpukan koran bekas selalu kami berikan ke tukang-tukang sayur yang setiap hari lewat di komplek perumahan kami tinggal.  Syukurlah para tukang sayur tidak ada yang menolak jika kita tawarin koran bekas untuk mereka bawa.  Akhirnya, tikus tidak punya tempat bermain, rumah tidak sumpek dan tukang sayur pun senang!

Balik lagi ke berita politik yang aku baca di surat kabar beberapa minggu lalu.  Beritanya terus berkembang setiap hari bahkan Sidang Praperadilan sudah selesai dibacakan keputusannya.  Lalu kertas-kertas surat kabar minggu lalu sudah berubah warna, agak usang kecoklatan, menjadi onggokan koran bekas di sudut rumahku.

Tinggal menunggu tukang-tukang sayur lewat depan rumah.... Ini Mang, koran bekas untuk bungkus-bungkus belanjaan, mau nggak ?












4 komentar: